Ukuran Kebijaksanaan

Nasruddin Hoja menjadi salah satu orang yang dikenal dengan kebijaksanaannya. Semua orang mengenal dan menghormati lelaki itu. Kemasyhurannya itu pun menyebar tidak hanya di tempat Nasruddin tinggal, namun sampai ke negeri seberang.

Seorang filsuf dan moralis yang tidak kalah terkenal di negerinya telah banyak mendengar tentang betapa bijaksananya seorang Nasruddin. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang dan singgah di Kota Ak Shehir tempat dimana Nasruddin tinggal.  Kedatangannya tak lain ingin bertemu langsung dengan Nasruddin lalu mengajaknya diskusi bersama.

Begitu sampai di Kota Ak Shehir, filsuf itu mengirim undangan yang berisi ajakan makan disebuah restoran kepada Nasruddin. Keduanya kini telah sampai di sebuah restoran. Mereka duduk berhadapan di sebuah meja kosong tak jauh dari sudut ruangan dan memesan makanan. Sambil menunggu pesanan siap, Nasruddin dan filsuf itu mulai berdiskusi.

Beberapa saat setelahnya seorang pelayan datang dengan sebuah hidangan dua ekor ikan bakar dengan ukuran yang bereda. Salah satu ikan bakar itu berukuran jauh lebih besar dari ikan lainnya.

Tanpa menunggu lama, Nasruddin langsung saja mengambil ikan bakar yang ukurannya paling besar. Kening sang filsuf mengernyit melihat tingkah laku Nasruddin, menatap lelaki itu dengan tatapan tak percaya. Dia mulai ragu dengan kebenaran kabar bahwa lelaki yang tengah duduk di hadapannya itu adalah orang yang bijaksana.

Sang filsuf pun menegurnya, mengatakan bahwa tindakan Nasruddin itu sangat hina dan egois. Menurutnya apa yang telah dilakukan oleh Nasruddin menentang prinsip-prinsip moral, etika dan kepercayaan yang telah dianut masyarakat.

Berbeda dengan wajah tidak santai sang filsuf, Nasruddin justru mendengarkan kalimat panjang lebar itu dengan sabar seperti ia sedang mendengar khotbah. Ia hanya diam, tak berniat menyela sama sekali hingga sang filsuf merasa kelelahan sendiri.

“Kalau begitu Tuan, apa yang seharusnya akan kamu lakukan?” tanya Nasruddin kemudian.

“Kalau aku, sebagai orang yang bijak, tidak akan mementingkan diri sendiri. Tentu saja aku akan mengambil ikan yang lebih kecil untukku sendiri,”jawab sang filsuf.

Nasruddin mengangguk. “Silahkan kalau begitu!” balas Nasruddin sambil menyodorkan ikan yang kecil kehadapan sang filsuf.