Baju Mewah

Humor Sufi 61

Pada suatu hari salah seorang yang dikenal kaya di kota Ak Shehir berencana mengadakan sebuah pesta mewah. Sebuah acara yang sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang dengan harta mereka yang banyak.

Biasanya hanya orang-orang tertentu yang bisa menerima undangan dan hadir ke pesta tempat orang kaya berkumpul itu. Mungkin sebuah nasib baik, Nasruddin Hoja mendapatkan undangan untuk turut serta dalam pesta malam nanti. Dengan senang hati Nasruddin menyanggupi untuk datang.

Ia sengaja mengosongkan perut agar saat berada di pesta nanti, Nasruddin bisa banyak makan makanan yang lezat. Dengan sabar ia menunggu waktu menuju malam.

Matahari seperti bergerak begitu pelan ke arah barat. Perlahan langit mulai berwarna keemasan kemudian lambat laun menjadi hitam. Hari sudah malam, itu artinya Nasruddin harus cepat bersiap untuk pergi menghadari pesta mewah itu.

Nasruddin Hoja berjalan kaki menuju tempat si orang kaya. Dari jaraknya saat ini ia bisa melihat banyak orang mulai memasuki rumah besar tempat pesta diadakan. Ia telah sampai di teras si tuan rumah, para tamu di depannya sudah masuk ke dalam diiringi sambutan ramah.

Tetapi karena Nasruddin hanya memakai pakaian yang sudah tua dan warnanya sudah memudar, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dia menengok ke sekitarnya, dan menghela napas. Dengan kecewa Nasruddin pun pulang kembali ke rumah.

Tak lama setelahnya, Nasruddin kembali ke pesta namun dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Berbeda dari sebelumnya, kali ini si tuan rumah menyambutnya dengan ramah. Ia digiring  masuk kemudian di arahkan pada tempat duduk, di hadapannya sudah tersaji hidangan mewah nan lezat seperti tamu-tamu yang lain.

Tapi, bukannya makan dengan lahap seperti apa yang dibayangkannya siang tadi, Nasruddin malah melepas pakaiannya. Ia letakkan pakaian itu di atas hidangan lalu berseru, “Hei baju baru, makanlah! Makanlah sampai kau puas!”

Semua orang termasuk si tuan rumah memandang Nasruddin dengan heran. Namun sedetik kemudian keherenan mereka terjawab dengan perkataan Nasruddin selanjutnya.

“Saat aku datang dengan baju lusuh tadi, tidak ada seorang pun yang memberiku makan, Tapi saat aku kembali dengan baju bagus ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Jadi, tentu saja ini hak bajuku. Bukan hakku!” sarkasnya.