Kikir Pangkal Sakit

Humor Sufi 56

Kisah kocak ini akan menghadirkan tokoh Nasruddin Hoja, yang selalu sial karena ketidaktahuannya akan banyak hal. Kisah yang satu ini menghadirkan ketidaktahuan Nasruddin akan cabai. Maklum, dia tinggal di negeri antah berantah yang tidak pernah ada tanaman cabai satupun. Karena ketidaktahuannya ini, maka Nasruddin lagi-lagi tertimpa sial.

Suatu hari, Nasruddin sedang berkelana. Dalam perjalanan, ia mampir ke India. Ia berencana untuk berhenti disitu, untuk sekedar mencari makanan yang segar. Maklum, perjalanan panjang menempuh padang pasir cukup membuatnya lelah dan dahaga. Minum saja tidak cukup buatnya. Ia ingin mencari buah-buahan sebagai penghilang dahaga, sekaligus membuatnya kembali segar.

Saat ia menyusuri jalanan, ia pun melihat seorang pria yang berteduh di bawah pohon rindang. Seolah menjawab keinginannya untuk makan buah, ia pun bergegas menghampiri pria yang sedang menunggui dagangannya itu. Ia melihat bahwa sang pria membawa sekeranjang buah berwarna merah. Nasruddin pun senang dan ia mengambil banyak buah tersebut. “Buah seperti ini yang kucari,” katanya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia merogoh dua keping uang perak yang ia sinpan di ujung sorbannya.

Penjual buah pun terheran-heran, ia menerima saja uang dari Nasruddin. Pasalnya, selama ini tidak ada orang yang membeli dagangannya dalam jumlah banyak. Satu pelanggan paling hanya membeli sedikit saja. Ia hanya heran menatap Nasruddin yang duduk di sebelahnya.

Tanpa banyak cakap, Nasruddin langsung melahap ‘buah’ yang baru ia beli itu. Satu gigitan saja langsung membuat Nasruddin merasa mulutnya terbakar. Ia berteriak-teriak dan memaki si penjual. “Hey, darimana kamu mendapatkan buah ini? Pasti buah ini adalah buah yang dikeluarkan dari mulut setan,” katanya sembari marah-marah. Namun, ia tetap melahapnya.

Tak kalah kesal, si pedagang juga berkata, “Anda juga aneh. Untuk apa membeli cabai Hindustan begitu banyak dan langsung dimakan?” Pedagang pun semakin heran saat Nasruddin tetap memakannya. Ia terus memperingatkan Nasruddin.

“Berhentilah memakan buah itu daripada Anda nanti mati sebelum matahari terbenam jika Anda makan semua yang Anda beli.”

“Aku tidak bisa,” kata Nasruddin sambil kepedasan. “Aku mau menghabiskannya, karena aku harus makan uang yang sudah kubayarkan.”