Kelas Cerdas

Humor Sufi 60

Nasruddin Hoja adalah salah satu cendikiawan di kota kelahirannya Sivri Hisar. Namanya begitu harum diseluruh penjuru kota, terlebih dengan kebijaksanaannya. Ia pun dipercaya orang-orang untuk mengajar syair dan kerohanian kepada para pemuda di kota.

Setelah kepulangannya menyelesaikan pendidikan, Nasruddin kini menggantikan kedudukan ayahnya yang telah mendirikan beberapa perguruan di kota. Dia diangkat menjadi imam di kota karena selain kaya dan arif, dia adalah guru sufi yang berjiwa humor.

Jiwa humor inilah yang kemudian membuat pikiran-pikiran muridnya terbuka saat menerima pelatihan atau pelajaran kerohanian. Dia juga seorang yang sabar menghadapi murid-muridnya yang dikenal cerdas dan bandel.

Pada suatu hari Nasrudin sedang mengajar sebuah syair tentang harmoni alam dan kebesaran sang Pencipta kepada para muridnya. Semua pemuda disana diam memerhatikan dan mendengarkan sang guru yang akan membacakan sebuah syair tersebut.

“Oh kasih yang agung.
Seluruh diriku diselimuti oleh-Mu.
Segala yang tampak oleh mataku.
Tampak seperti wujud-Mu.”

Syair harmoni yang telah dibacakan itu mendapat berbagai  tanggapan dari murid Nasruddin. Ada yang berdecak kagum akan makna syair yang begitu dalam. Ada pula yang menanggapinya dengan nyeleneh, yakni tanggapan dari salah seorang murid Nasruddin yang terkenal bandel.

Di saat yang lain tengah memerhatikan dan mencoba memelajari makna syair, muridnya yang satu itu malah menggoda sang guru dengan pertanyaan nyeleneh. “Lalu bagaimana jika ada seekor keledai yang berjalan di depan anda?” katanya.

Bukan Nasruddin namanya jika ia mengabaikan orang lain, termasuk muridnya itu. Ia tidak mengacuhkan ataupun marah mendapat pertanyaan luar biasa dari sang murid. Mullah Nasruddin malah meneruskan bacaan syairnya, “… Tampak seperti wujudmu.”

Jawaban Naruddin tentu mengundang gelak tawa para muridnya. Suasana yang pada awalnya sunyi, kini mendadak riuh. Nasruddin selalu menyelipkan sisi humor di dalam setiap pelatihan dan pelajaran, seperti saat ini.

Dengan demikian bertambahlah semangat para pemuda untuk belajar bersama sang Mullah. Tidak ada kata sulit dan jenuh dalam belajar. Semua ilmu yang diajarkan Mullah Nasruddin mudah untuk diterima para muridnya.