Khasiat Keju

Nasruddin Hoja tiba kembali ke rumah setelah beberapa hari bepergian jauh ke negeri seberang untuk bertemu sang guru. Saat tiba di rumah, ia disambut dengan gembira oleh sang istri. Beberapa barang bawaannya seperti pakaian dan buku-buku diambil alih perempuan itu dari sang suami.

Pasangan suami istri itu beriringan memasuki rumah kemudian membiarkan Nasruddin duduk di kursi. Sang istri pergi meninggalkan Nasruddin ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan sepotong keju.

Dengan senyum merekah ia menyerahkan segelas air yang kemudian di sesap hingga tandas oleh Nasruddin. Selesai sang Mullah minum, sang istri pun berkata, “Aku punya sepotong keju untukmu.”

Nasruddin ikut tersenyum menanggapi senyum istrinya. “Alhamdulillah,” puji Nasruddin. “Terimakasih, aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut.” lanjutnya.

Belum sempat menikmati potongan keju yang dibawakan istrinya, Nasruddin kembali harus pergi. Ia masih punya kewajiban untuk mengajar para pemuda di kota Ak Shehir. Maka ia berpamitan kepada sang istri. Perempuan itu pun mengangguk dan mengantarkan Nasruddin hingga teras rumah.

Beberapa jam kemudian sang Mullah kembali pulang ke rumah. Ia senang sekali karena usai lelah mengajar dan berjalan pulang, istrinya menyambut dengan gembira. Senyumannya tak kala merekah seperti saat ia baru pulang dari bepergian jauh tadi.

Kali ini Nasruddin langsung masuk ke dapur. Menarik satu kursi di meja makan sebelum mendudukinya. Istrinya membuntuti di belakang.

“Adakah keju untukku?” tanya Nasruddin setelah beberapa saat menunggu istrinya menyuguhkan sepotong keju, namun tak kunjung diberi.

“Tidak ada lagi,” kata istrinya.

Nasruddin mengangguk saja. “Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik untuk kesehatan gigi.” balasnya.

Perempuan yang ia jadikan istri itu mengernyit. “Jadi mana yang benar?” ucapnya bertanya-tanya. “Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi?”

Nasruddin beranjak dari kursinya, berniat pergi ke kamar untuk beristirahat. “Itu tergantung,” balas Nasruddin. “Tergantung apakah kejunya ada atau tidak.” lanjutnya sebelum melenggang ke kamar meninggalkan istrinya yang masih berpikir lambat mencerna jawaban sang suami.