Sop dan Sufi

Humor Gus Dur 5

Kamu pernah mendengar sebuah kisah yang menceritakan tentang sop dan Sufi? Kisah tersebut diceritakan dalam buku Canda dan Fatwa Gus Dur yang ditulis oleh K.H. Maman Imanulhaq Faqieh. Kisah ini sendiri berawal dari seorang yang melakukan perjalanan dari Cirebon menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Cirebon Ekspress. Seseorang tersebut kemudian memenuhi agenda makan siangnya bersama Gus Dur, dan di sore harinya bertemu Syeikh Hisyam yang ada di Permata Hijau.

Gus Dur pun menyapa orang yang baru datang tersebut, “Hai Kiai, bagaimana kabar Kamu? Dari Majalengka Kamu naik apa? Dan mana sop kikilnya?”. Dari sapaan tersebut terlihat lebih jelas bahwa seseorang ini cukup memiliki kedekatan dengan Gus Dur. Dari situ mulailah obrolan terjalin satu sama lain dengan akrab.

Baca Juga : Humor Gus Dur Tentang Mencuri

Seseorang itu mulai bercerita kepada Gus Dur tentang seorang imam yang sudah tua saat membacakan surat Al-Kafirun berulang kali. Kurang lebih seperti ini “Wa laa ana ‘aabidum maa abattum wa laa antum ‘aabiduum maa ‘abud…”. Kemudian salah satu jamaah yang ada di lokasi itu pun coba membantu membenarkan pengucapan dari pembacaan surat tersebut. “Lakum… lakum…”. Bukannya mengucapkan bunyi ayat dengan benar, justru sang imam membacanya dengan salah. Yakni “Lakum diinukum wa laa adh-dhooliin.”

Mendengar pengucapan tersebut, pada akhirnya seluruh jamaah yang ada di lokasi itu pun dengan refleks memberikan jawaban, “Aamiiin.” Saat mendengar cerita tersebut, Gus Dur pun terbahak-bahak.

Gantilah saatnya Gus Dur yang memberikan cerita. Ia menceritakan bagaimana suasana makan siang di sebuah restoran di Amerika. Seorang ibu yang berasal dari warga negara Indonesia diberikan pertanyaan. “Do you like salad, Mom?”.

Dari pertanyaan itu, ibu-ibu tersebut dengan sedikit pamer menjawab, “Yes, five times a day!”. Dari situ Gus Dur beserta K.H. Maman pun melanjutkan perjalanan dengan berdiskusi mengenai ajaran-ajaran Sufi. Gus Dur dengan jelasnya menuturkan seperti apa ajaran-ajaran yang ada pada Sufi itu sendiri. Yakni seperti ketauhidan, ketakwaan, keadilan, hingga mustadhafin.