Siapa Lebih Dekat dengan Tuhan

Humor Gus Dur 24

Memang paling seru bercanda dengan Gus Dur kalau soal perbedaan agama, suku dan ras. Selama ini, mayoritas jokes dari presiden RI keempat ini memang selalu menyangkut keberagaman suku, agama, dan ras. Namun, jokes-jokes tersebut selalu kocak dan mengandung unsur kebenaran. Pun tidak ada yang tersinggung dengan guyonan apapun ala Gus Dur ini.

Gus Dur selalu mengajak siapa saja untuk menghargai perbedaan. Hal ini supaya setiap umat beragama selalu dapat membuka pikiran selebar-lebarnya untuk berdialog. Salah satu guyonan paling kocak adalah percakapan antara Gus Dur, pendeta dan pandita.

Percakapan pertama diawali oleh pendeta. Ia mengatakan bahwa pemeluk agamanya sangat dekat dengan Tuhan. Pendeta agama Kristen ini mewakili pula umat Katolik dimana ia sangat bangga karena umatnya sangat dekat dengan Tuhan. Ia mengatakan demikian, “Umat kami sangat dekat dengan Tuhan. Kami dapat memanggil Tuhan dengan sebutan “Allah Bapa”. Bahkan, kami juga dianggap sebagai anak.

Ternyata, sang pandita juga tak mau kalah. Ia berkata bahwa kaumnya juga sangat dekat dengan Tuhan. Begini katanya, “umat kami semua juga sangat dekat dengan Tuhan. Buktinya, kita memanggil Tuhan dengan sebutan, Om.” Tentu maksudnya disini adalah sebutan Om Swatiyastu, salam yang diucapkan oleh para umat Hindu.

Baca Juga : Humor Gus Dur Paling Lawak

Mereka menunggu-nunggu jawaban dari Gus Dur. Mereka ingin tahu bagaimana kedekatan umat Gus Dur dengan Tuhan.  Gus Dur pun menjawab dengan ciri khasnya, “Boro-boro deket. Kalau kita manggil Tuhan saja harus pakai pengeras suara dan menara,” kata Gus Dur

Guyonan ini disambut tawa seisi ruangan. Guyonan ini sering sekali diutarakan di berbagai kesempatan, dimana umat Gus Dur sendiri turut tertawa dengan kyai panutan mereka tersebut.

Tentu dalam hal ini, Gus Dur sekedar bercanda, dimana ia bermaksud bahwa kedekatan seseorang dengan Tuhan tentu tidak diukur dengan cara ia berdoa.

Beliau menekankan bahwa kedekatan seseorang dengan Tuhan, serta tingkat religius seseorang bukan tergantung dari cara ‘memanggil’, tetapi pada hubungan pribadi dari masing-masing individu.