Pas 5 Menit

Guyonan soal fisik memang bisa sangat menyinggung. Namun, Gus Dur sering sekali melontarkan guyonan soal fisik dirinya.  Guyonan seperti itu mungkin membuat pendengar merasa sungkan, tetapi Gus Dur seolah ingin menekankan bahwa dirinya tidak pernah menemui masalah dengan apa yang dialaminya.  Hal ini ia ungkapkan dalam sebuah gurauan tentang waktu. Khususnya, waktu yang ia gunakan untuk berpidato di forum Internasional.

Guyonan ini lebih tepatnya merupakan sindiran penggunaan waktu bagi beberapa petinggi negara.  Tidak semua kepala negara dapat memiliki ketepatan waktu dalam berpidato. Ada yang pidatonya singkat, jelas dan berapi-api. Ada pula pemimpin yang memilih untuk membaca teks pidato yang disesuaikan dengan waktu yang tersedia, ada pula pemimpin yang tidak peduli meskipun waktu pidato sudah dibatasi.

Hal ini diungkapkan Gus Dur saat ia mendapat kesempatan untuk hadir pada acara pertemuan kepala negara tingkat dunia. Setiap kepala negara mendapatkan waktu untuk berpidato.

Yang unik adalah waktu yang ditentukan untuk berpidato tersebut. Tidak tanggung-tanggung, panitia pertemuan tersebut memberikan lampu penanda untuk peserta yang ingin berpidato. Peserta dapat memulai pidato saat lampu berwarna hijau. Saat lampu berwarna kuning, pidato harus sudah hampir selesai. Lampu merah menyala mengindikasikan bahwa kepala negara harus menghentikan pidatonya.

Tak terkecuali Gus Dur. Ia menyelesaikan pidato tepat waktu, dan hanya dalam waktu tidak lebih dari lima menit. Selesai Gus Dur berpidato, semua hadirin memberikan aplaus yang luar biasa. Gus Dur pun melontarkan jokes yang unik terkait dengan batasan waktu yang diberikan saat pidato.

 “Mereka memberikan tepuk tangan kepada saya bukan karena pidato saya bagus. Tapi mereka heran karena saya tidak dapat melihat tanda lampu, tapi bisa selesai tepat waktu,” jelas Gus Dur.

Nah, Gus Dur juga mengungkapkan bagaimana pemimpin negara lain justru mengabaikan peraturan ini. Adalah Fidel Castro, yang tidak menggubris batasan waktu. Menurut Gus Dur, pemimpin Kuba ini langsung mengambil sapu tangan saat hendak mulai pidato. Bukan untuk menyeka keringat, tetapi ia menutup lampu penanda waktu untuk pidato, sehingga ia merasa bebas untuk berpidato seperti yang ia mau.