Kiai dan Sopir Metromini

Gus Dur memang dikenal sering membagikan cerita-cerita humor khasnya. Salah satu humor yang terkenal adalah cerita mengenai sopir metromini dan kiai saat di akhirat ini. Dikisahkan, bahwa setelah meninggal, sopir metromini ini bertemu dengan salah satu malaikat di pintu akhirat.

Kemudian malaikat itu bertanya kepada sang sopir. “Apa pekerjaan  yang kamu lakukan selama masih hidup di dunia?” Lalu sopir itu menjawab bahwa ia bekerja sebagai salah seorang sopir kendaraan umum.

Setelah itu, malaikat tersebut memberi kamar yang mewah untuk ditinggali oleh si sopir metromini itu. Tidak hanya mewah dan luas, semua peralatan yang ada di kamar itu juga terbuat dari emas yang berkilauan. Dengan senang hati, sopir itu berterimakasih dan memasuki kamar barunya tersebut.

Berikutnya, datanglah Gus Dur menemui malaikat dikawal oleh ajudan-ajudannya yang masih setia bahkan sampai akhirat. Malaikat itu menanyakan pertanyaan yang sama kepada Gus Dur. “Apa pekerjaan yang kamu lakukan selama masih hidup di dunia?”

Gus Dur menjawab dengan percaya diri, yakin bahwa dirinya akan mendapat kamar yang lebih bagus dan besar dibandingkan sopir metromini itu karena pekerjaannya yang lebih mulia. “Saya mantan presiden, juga juru dakwah selama masih di dunia.”

Setelah Gus Dur menjawab, malaikat itu kemudian memberikannya kamar yang kecil, sempit dan juga tidak nyaman dihuni. Bahkan peralatan di kamar itu semuanya hanya terbuat dari kayu lapuk. Tentu saja melihat keadaan kamar itu Gus Dur protes kepada malaikat.

“Lho, kenapa saya yang mantan presiden dan juga juru dakwah selama masih hidup justru mendapatkan kamar yang tidak lebih baik dibandingkan seorang sopir metromini?”

Malaikat itu menjawab protes dari Gus Dur dengan sangat tenang. “Sabar, Pak. Saya bisa jelaskan. Begini, dulu setiap kali Bapak sedang ceramah, orang-orang yang mendengar ceramah Bapak menjadi mengantuk dan tidur, yang berarti mereka melupakan Tuhan. Berbeda dengan sopir metromini itu yang selalu mengemudi dengan ngebut sehingga orang-orang di dalamnya berdoa dan jadi mengingat Tuhan.”