Konghucu Ala NU

Gus Dur memang dikenal sebagai sosok negarawan yang sangat menjunjung tinggi keberagaman suku, agama dan ras di Indonesia. Semua pihak dirangkulnya sehingga ia dekat dengan siapa saja. Tak terkecuali Bunshu Bingky Irawan, seorang aktivis MATAKIN atau Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia.

Kedekatan Bingky dan Gus Dur sudah sangat lama, dimana ia mendapatkan perhatian Gusdur sejak masa Orde baru. Kedekatannya itu membuat Bingky sering ditahan di Polda atau Kodam. Di masa Orde Baru, agama Konghucu tidak diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Semua kegiatan yang terkait dengan agama ini, terutama perayaan Imlek di klenteng juga dilarang.

Namun, saat Gus Dur menjabat sebagai presiden, ia meresmikan Konghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia. Peraturan ini berlaku hingga sekarang, dimana masyarakat dapat dengan mudah mengikuti perayaan Imlek di berbagai klenteng di seluruh Indonesia. Bahkan, perayaan Imlek selalu ditunggu masyarakat untuk dapat menyaksikan barongsai dan menikmati lontong cap go meh secara gratis. Tidak hanya itu, masyarakat yang tinggal di sekitar klenteng juga pasti mendapatkan bantuan sembako.

Baca Juga:  Tukang Santet Jakarta

Bingky sempat menceritakan bahwa dia pernah ikut Gus Dur ke sebuah pesantren.  Saat itu, Bingky merasa dirinya selalu diikuti oleh intel. Bingky pun mempertanyakan kepada Gus Dur apakah aman-aman saja kalau dirinya mengikuti Gus Dur ke pesantren. Gus Dur menjawab bahwa pastinya semuanya aman saja, selama masuk pesantren bersama Gus Dur.

Baca Juga : Humor Lucu Gus Dur Paling Gokil

Bingky tak ragu mengikuti Gus Dur meski ia merasa kikuk saat menjadi perhatian penghuni pesantren. Mereka heran mengapa ada WNI keturunan Tiongkok yang ikut masuk pesantren.  Gus Dur pun mengetahui kegelisahan Bingky, sekaligus menjawab rasa penasaran penghuni pesantren. Ia memperkenalkan Bingky sebagai orang Tiongkok yang sudah NU meski tidak bisa shalat.

Baca Juga:  Kiai dan Sopir Metromini

Bingky pun heran dan bertanya “Maksudnya bagaimana Gus, kok saya dianggap sudah NU?” Seperti biasa, jawaban Gus Dur enteng saja. “Minoritas harus ikut mayoritas kalau ingin selamat,” kata Gus Dur. Bingky pun mengiyakan dan setuju dengan pendapat ini.