Masalah Kentut

Ada cerita lucu tentang Yuk Jah, pengelola warteg. Suatu pagi Yuk Jah mengetuk-ngetukkan kakinya dengan gelisah. Sudah sejak tadi dia mengantre di ruang tunggu dokter dan namanya belum juga dipanggil oleh petugas resepsionis. Duduknya tidak tenang. Sesekali ia menoleh ke orang-orang di sekitarnya, takut kalau-kalau kentutnya terdengar dan tercium baunya. Sudah beberapa hari ini memang perutnya bermasalah. Ia jadi sering kentut.

Untuk mengalihkan perhatian, Yuk Jah yang tamatan SD itu memperhatikan poster kesehatan yang ditempel di dinding ruang tunggu. Saat sedang fokus mencoba membaca tulisan, bahunya ditepuk seseorang. Rupanya si petugas resepsionis.

“Mari Bu, sudah ditunggu Pak Dokter di dalam,” ujar si resepsionis dengan ramah. Yuk Jah ikut berjalan membuntuti perempuan muda di depannya.

Sesampainya di dalam ruang periksa, Yuk Jah duduk di seberang sang dokter. Dokter tersebut senyum sama ramahnya. “Ada keluhan apa, Bu?”

“Begini, Dok. Kok kira-kira selama dua minggu ini saya jadi sering kentut, ya? Dalam satu jam saja kira-kira bisa sampai sepuluh kali. Sampai capai, saya. Tapi ya untungnya kentut saya nggak bersuara apalagi bau.”

Si dokter menggosok hidungnya yang mancung. “Ibu kegiatannya apa saja?”

“Saya punya warung nasi, Dok. Tapi ya kira-kira sejak sebulan ini juga pelanggan saya jadi makin sedikit. Saya yakin pasti ada kaitannya antara kentut dengan indra pengecap saya, Dok. Jangan-jangan kualitas masakan saya jadi berkurang. Yang pasti sih bukan karena kentut saya bau atau berbunyi. Lha ini saja selama saya nunggu sampai barusan, saya sudah ngentut dua belas kali.”

Yuk Jah melihat dokter di depannya menuliskan sesuatu di atas nota resep. “Bu, ini obatnya dihabiskan, ya, untuk satu minggu. Minggu depannya nanti datang lagi ke sini.”

Kertas resep itu diterima dan segera ditebus oleh Yuk Jah. Seminggu kemudian ia kembali datang ke dokter.

“Bagaimana Bu? Sudah merasa lebih baik?”

“Belum, Dok. Malah setelah minum obat yang dikasih Dokter, kentut saya jadi bau. Baunya busuk tidak keruan Dok. Saya nyium baunya saja sampai mau pingsan. Tapi untung tidak bunyi, Dok.”

“Hmm…. kalau begitu artinya hidung Anda sudah tidak mampat lagi. Ibu sekarang tebus resep yang ini, ya.”

“Lho? Ini obat apa lagi, Dok?”

“Obat budek, Bu.”

Nah, itulah cerita lucu dari Yuk Jah dan masalah kentutnya. Cukup menghibur, kan?