Berburu Beasiswa

Ada cerita lucu tentang Ale, mahasiswa jurusan teknik elektro yang sudah terlambat tiga semester dari waktu tempuh studi delapan semester yang seharusnya. Memang sih, semua gara-gara dirinya sendiri yang mengabaikan kewajiban utamanya sebagai mahasiswa. Dibandingkan urusan akademik, dia lebih tertarik dengan organisasi. Karena tidak bisa menyeimbangkan waktu, akibatnya seperti sekarang ini.

Suatu ketika saat di koridor fakultas, Ale bertemu dengan Roni. Roni ini sudah lulus empat semester sebelumnya, alias lulus dalam waktu tiga setengah tahun dengan predikat cumlaude. Sekarang, dia sedang melanjutkan S2 di Taiwan. Mereka kemudian berbincang di kantin.

Gimana rasanya jadi mahasiswa S2, Ron? Di luar negeri, pula. Pasti enak, ya,” Ale mengatakannya dengan sedikit perasaan iri.

Yah, namanya jadi mahasiswa sih belajar lagi terus setiap hari, sibuk riset. Tapi enaknya jadi punya pengalaman tinggal di negara lain, belajar kebudayaan mereka juga. Mumpung beasiswa, biayanya juga ditanggung penyedia.”

Mendengar itu Ale jadi sedikit bersemangat. “Eh iya, Le. Omong-omong soal beasiswa, susah nggak sih mendapatkannya? Aku kok sepertinya jadi ingin coba daftar beasiswa S2 ke luar negeri juga.”

“Kalau susah atau nggaknya sih relatif, ya. Tapi yang pasti, namanya juga beasiswa, persaingannya yang ketat. Bisa dibilang faktor keberuntungan juga berperan cukup besar.”

Ale jadi murung lagi, menyadari kemampuan dirinya sendiri. Dengan otak pas-pasan dan nilai yang juga sama pas-pasannya, kesempatannya untuk berhasil pasti kecil.

Melihat perubahan ekspresi Ale, Roni menambahkan, “Eh Le, mobil yang kamu pakai Toyota, kan?”

“Iya,” jawab Ale agak bingung. “Kenapa, Ron?”

“Nah, itu ada kesempatan. Ikut aja beasiswa dari Toyota foundation. Seingatku syaratnya nggak susah, kok. Persaingannya juga nggak seberat yang lain.”

Pupil Ale membesar karena antusias. “Serius? Apa aja syaratnya?” Telinganya sudah siap menyimak informasi dari Roni.

“Pertama, harus lulus S1 dulu. IPK minimal 2,75 dari skala 4,00. Nggak ada batasan usia untuk mengikuti beasiswa ini. Selain itu, kamu harus siapkan nilai TOEFL minimal 500 dan pastikan bahwa kamu sudah diterima di perguruan tinggi yang diinginkan.”

“Lalu?”

“Nah, selanjutnya, pastikan mobil Toyotamu dalam keadaan yang baik. Ambil gambarnya sebaik mungkin dari berbagai sisi, lalu sebarkan di koran atau media e-commerce. Setelah itu, tunggu sampai ada orang yang mengontakmu dan berminat membelinya. Kalau sudah ada transaksi, tinggal pakai saja uang penjualan mobilmu untuk biaya S2.”

Ale tercengang. “Kampreeeeettt! Itu sih bukan beasiswa namanya!”

Itulah sedikit cerita lucu ala mahasiswa. Kalau Anda, ada cerita lucu apa saat menjadi mahasiswa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *