Membawa Piano ke Bandara

Cerita Lucu Mukidi 13

Hari raya Idul Fitri adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang terutama yang tinggal di tanah rantau. Salah satu yang begitu antusias untuk pulang ke kampung halaman adalah pasangan suami istri Mukidi dan Markonah.

Kesibukan sehari-hari dan jarak ribuan kilo meter menghalangi keduanya untuk berkumpul dengan sanak saudara. Jika tidak dalam suasana libur panjang lebaran, sudah dapat dipastikkan mereka tidak akan bisa pulang.

Mukidi sudah mempersiapkan acara pulang kampungnya dari jauh-jauh hari. Pria itu juga sudah membeli tiket pesawat bersama sang istri. Sepulang kerja, Mukidi menyerahkan dua lembar tiket burung besi itu kepada sang istri. Kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Markonah tidak bisa menyembunyikan wajah suka citanya saat menerima tiket itu dari tangan sang suami. Saking senangnya, ia sampai lupa jika sedang memasak untuk berbuka puasa sebentar lagi. Perempuan itu meletakkan lembar tiket tersebut dan segera berlari ke dapur, takut masakannya gosong.

Markonah sibuk berkutat dengan masakannya, hingga tidak sadar telah melupakan sesuatu. Selesai dengan urusan memasak, ia segera menata dengan rapi hasil kerja kerasnya di atas meja. Ia menyalakan televisi dan sibuk mendengarkan saluran kultum sambil menunggu adzan maghrib berkumandang.

Ramadhan berjalan seperti biasanya, kedua pasangan itu melewati hari dengan penuh suka cita. Hingga tak terasa sudah mendekati hari raya, keduanya bahagia membayangkan akan segera berkumpul dengan keluarga besarnya.

Markonah kini tengah sibuk memasukkan baju dan macam-macam buah tangan ke dalam koper yang rencananya akan mereka bawa besok. Mereka sudah tidak sabar, dengan terburu-buru pasangan suami istri itu menuju pintu keberangkatan. Bersama calon penumpang lainnya, saat ini mereka sedang dalam antrean terminal F yang ada di bandara Soekarno-Hatta.

Di tengah keramaian itu Markonah berkata pada sang suami, “Kalau saja kita tadi bawa piano ya, bang?”

Mukidi menatap bingung sang istri sambil tangannya sibuk menyeka peluh akibat tergopoh-gopoh tadi. “Apa maksud kamu, dik?” tanya Mukidi heran.

Dengan lemas Markonah menjawab, “Maaf, tiket pesawatnya tertinggal, bang. Aku lupa menaruhnya di atas piano.”