Pamer Kehebatan Ayah

Seperti anak kecil kebanyakan, mereka suka memamerkan apapun yang mereka punya, mulai dari mainan, tas, buku, hingga kehebatan ayahnya. Terkadang cerita kesombongan mereka berubah menjadi cerita lucu kocak yang menggelikan. Seperti yang dilakukan Tono, Mimin dan Dudung, di sela-sela bermain petasan roket saat malam tahun baru.

Mimin memulai topik dengan memamerkan kehebatan ayahnya. “Tono, Dudung, sini dulu! Berhenti main petasannya!” Ajak Mimin menghentikan Tono dan Dudung yang sedang asik bermain petasan.

“Ada apa atuh, Min? Lagi asik main petasan ini!” Keluh Tono.

“Aku mau cerita, ayah aku hebat loh,” Ujar Mimin sombong.

“Hebat apa emangnya ayah kamu, Min?” Tanya Dudung.

“Ih, waktu tahun baruan tahun lalu…” Mimin mulai bercerita. “Waktu aku main petasan, digangguin sama preman-preman di Puncak. Ada 5 orang, terus sama ayah aku diajak berantem. Kalah, tahu, 5 orang itu. Hebat kan?” Tutur Mimin sombong.

“Ah, Mimin, ayah kamu belum ada apa-apanya,” Tanggap Tono meremehkan. “Itu kebetulan saja ayah kamu bisa karate. Ayah aku dong, pemain sirkus!”

“Terus kenapa kalau pemain sirkus?” Tanya Mimin heran.

“Ayah aku bisa main sepeda di atas tali sambil main lempar-lempar bola! Hebat kan?” Seloroh Tono dengan sombong.

“Wah, iya ya, ayah kamu hebat Tono!” puji Mimin.

“Ah, itu mah belum ada apa-apanya sama yang dilakuin ayah aku dong!” Tanggap Dudung tidak mau kalah.

“Memang ayah kamu ngapain, Dung ?” Tanya Tono penasaran.

“Lihat petasan roket sebesar ini! Ayah aku ya, bisa gantungin petasan roket, lima biji di kuping, terus diledakin !” Cerita Dudung dengan bangga.

“Wah, iya ya, ayah kamu nyalinya gede ya? Hebat!” Puji Tono salut.

“Terus, sekarang ayah kamu kemana, Dung ?” Tanya Mimin.

“Sekarang mah udah enggak ada,” jawab Dudung.

“Kapan ayah kamu meninggalnya?” tanya Mimin penasaran.

“Ya, waktu itu aja, pas ledakin petasan roket di kuping.” Jawab Dudung dingin.

Tono dan Mimin hanya bisa terdiam, bingung harus menjawab apa, antara kesal atau berduka dengan cerita yang disampaikan Dudung.

Itulah cerita lucu kocak kepolosan sekelompok anak kecil yang menyombongkan kehebatan ayahnya. Tapi perilaku nekadnya jangan ditiru ya, karena itu hanya untuk bercanda semata.