Tragedi Konyol Siswa Tampan di Sekolah

“Kamu mau jadi apa kalau sudah besar nanti?” mungkin itu pertanyaan yang kerap kali dilontarkan oleh seorang guru kepada muridnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 1. Sontak saja, banyak murid yang berebutan untuk menjawab. Beberapa dari mereka ada yang mengatakan dokter, guru, pilot, perawat dan masih banyak lagi.

Sayangnya, dari sekian banyak siswa di kelas, hanya akulah yang terdiam tanpa memberikan respon atas pertanyaan ibu guru. Dari sinilah pengalaman lucu waktu kecil dimulai hingga membuat cerita ini terus terkenang sampai sekarang.

Melihat aku yang terdiam, ibu guru mendekat dan bertanya “Mengapa kamu diam, apakah kamu tidak memiliki cita-cita?”

Sekali lagi aku hanya terdiam dan mencoba berpikir keras akan cita-citaku di masa depan. Sontak saja, tanpa sadar akupun langsung melontarkan ucapan “Maukah ibu menjadi pacarku?”

Baca Juga:  What Is Monggo?

Langsung saja pertanyaan tersebut disambut gelak tawa semua siswa hingga ruang kelas berubah menjadi sangat gaduh. Karena malu dengan pertanyaan tersebut, muncullah sifat asli ibu guru yang ternyata sangat centil dan kemayu. Diapun langsung menimpali “Gak sudi  aku menjadi pacarmu, orang kamu saja jelek, masih kecil, bisa apa kamu?”

Tanpa berpikir panjang, akupun langsung bilang “Aku bisa ngomong I love you.”

Karena semakin malu, ibu gurupun langsung menjawab, “saya hanya mau dengan orang yang ganteng. Nggak seperti kamu.”

Tidak ingin kalah, akupun menggoda lagi “orang ganteng seperti apa yang ibu inginkan?”

Dengan berusaha sabar, ibu guru kembali melontarkan pertanyaan “jadi, apa cita-citamu kelak? Jangan aneh-aneh, lah. Bikin kelas gaduh saja.”

Akupun menjawab “Aku dulu sama sekali tidak punya cita-cita. Namun, semenjak aku duduk di bangku sekolah dasar, aku ingin berusaha membahagiakan ibu guru.”

Baca Juga:  Yang Penting Ada Isinya

Dengan nada marah “kamu ini jangan macam-macam, ya. Dasar tidak tahu sopan santun.” Akupun dijewer telingaku.

Tidak berhenti sampai situi saja, bu guru yang semakin marah kembali melontarkan ancaman “Kalau kamu masih begini, saya akan panggil bapak kepala sekolah.”

Dengan mencoba memelas dan sedikit menggoda, akupun kembali bilang “Jangan panggil bapak kepala sekolah, bu. Panggil saja Mas.”

Dalam hati, betapa konyolnya aku hingga membuat seisi ruang kelas tertawa. Maafkan aku, bu guru, aku janji tidak akan mengulanginya lagi.

Itulah pengalaman lucu waktu kecilku.