Kapan Bisa Maju

Lelucon Pilkada

Pilkada merupakan salah satu kegiatan pemilihan umum yang dilakukan dengan cukup serius. Namun, bagaimana jika ada lelucon pilkada yang mengundang gelak tawa? Lelucon Pilkada berawal dari dilaksanakannya Pilkada serentak di Indonesia. Sebuah daerah bingung menentukan siapa kader yang akan diajukan. Namun ada tiga orang yang sama-sama kuat dan sama-sama ngotot ingin menjadi Kepala Daerah.

Akhirnya dijalankanlah rapat hingga berkali-kali namun belum bisa memutuskan juga karena ketiga orang tersebut tetap ngotot. Namun sebuah keputusan tetap harus di ambil, sebelum mengambil keputusan siapa yang akan dicalonkan maka alangkah baiknya meminta konsultasi kepada salah seorang kesepuhan di daerah tersebut.

Tak ada salahnya untuk berkonsultasi mengenai berapa lama daerah akan maju jika dipimpin oleh masing-masing kader. Pasalnya, kesepuhan itu juga dianggap mampu menerawang jika ada orang yang bertanya. Hingga suatu hari ketiga kader diantar menuju kesepuhan. Semuanya diminta menghadap kesepuhan secara pribadi di ruangan yang sudah disediakan. Anggaplah kader A, B, dan C.

Kader A mendapat giliran yang pertama dan mulai masuk ke ruangan. Setelah keluar, ia menangis tersedu-sedu. Pengurus partai pun heran dan bertanya kepada kader A. Si A pun menjawab. “Saya sedih, saat saya tanya kasepuhan kapan daerah bisa maju jika saya pimpin jawabannya dalam waktu 20 tahun.”

Kini giliran B yang harus menghadap kasepuhan. Setelah masuk dan keluar ruangan ia pun menangis melebihi si A. Pengurus bertanya, dan B pun menjawab. “Kasepuhan menjawab jika saya memimpin daerah hanya bisa maju dalam 40 tahun.”

Tinggal si C, semua lebih terheran-heran saat si C keluar ruangan karena tersenyum-senyum. Si A dan B pun penasaran bertanya. “Loh, kok Kamu nggak nangis malah ketawa-ketiwi?” Si C pun menjawab, “Inilah kehebatan saya, lihat saja apa yang terjadi di dalam, malah kasepuhan yang menangis tersedu-sedu.”

Si A dan B pun menjawab “Kok bisa seperti itu?” Si C pun berkata, “Iya pas tanya berapa tahun daerah akan maju jika saya yang memimpin, kasepuhan malah menangis. Menurutnya, jika saya yang memimpin tidak tahu kapan majunya.”

Bagaimana, lelucon pilkada tersebut sangat lucu bukan? Dengan membaca lelucon pilkada ini maka kamu bisa terhibur dan bebas dari rasa sedih yang mendera.