Peti Penyelamat

Pada suatu malam Mullah Nasruddin Hoja berdiam sendirian saja di rumah. Istrinya sedang pergi ke rumah saudara yang sedang melahirkan. Sang istri diminta membantu untuk acara aqiqah yang akan diadakan dua hari lagi. Karena Nasruddin memiliki tanggungjawab mengajar para muridnya, rencananya dua hari lagi baru dia akan menyusul sang istri.

Sendiri di rumah ternyata cukup sepi, biasanya ada saja yang istrinya omelkan setiap hari. Untuk menghilangkan rasa sepi itu Nasruddin membuka lagi buku tentang fiqih yang akan diajarkan pada muridnya besok.

Lembar demi lembar halaman ia buka dan baca. Kegiatan itu mengingatkannya kembali pada masa dimana ia masih mengembara untuk belajar. Setiap malam ia akan membaca ulang apa yang telah diajarkan gurunya pada siang hari.

Terlalu larut dalam kenangan, tak terasa sudah tengah malam. Tidak hanya di dalam rumah, di luar rumah pun terdengar sangat sepi. Mungkin para tetangganya sudah tertidur pulas saat ini. Ia juga akan menyusul mereka ke alam mimpi.

Nasruddin menutup buku dan menaruhnya kembali ke rak kayu sederhana miliknya. Sebelum tidur, sang Mullah pergi ke kamar mandi untuk membuang hajat dan berwudlu. Saat keluar dari kamar mandi, tak sengaja ia melihat seorang pencuri yang memasuki rumah lewat pintu belakang.

Waktu menunjukkan tengah malam, para tetangga sudah tidur, sedangkan ia hanya sendrian di rumah. Nasruddin tidak mungkin melawannya sendiri. Ia cepat-cepat masuk ke dalam peti untuk bersembunyi.

Sementara di lain tempat, sang pencuri sedang  memulai aksinya menggeledah seluruh ruangan. Seluruh sisi rumah sudah ia gerayangi, tapi si pencuri belum juga menemukan satu pun barang berharga.

Akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah peti yang letaknya tak jauh dari kamar mandi. Benar, hanya peti itu yang belum diperiksanya. Dengan langkah seribu dia dekati peti itu, berharap semua barang berharga tersimpan disana. Di bukanya peti besar itu dan malah menemukan Nasruddin yang tengah bersembunyi.

“Aha!” celetuk si pencuri. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini, hah?” bentaknya.

Nasruddin pun menjawab, “Aku malu, karena aku tidak punya apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”