Satu Sama

Humor Sufi 32

Di pagi hari yang cerah, Nasruddin Hoja begitu bersemangat berjalan-jalan di pasar. Bola matanya berlarian ke kiri dan kanan, melihat berbagai barang di lapak seorang penjual.

Sesekali dia akan berhenti, menimang sebantar suatu barang, kemudian menanyakan harga dan menawar tanpa berniat membeli. Hanya sekedar melihat-lihat saja, usai itu kembali melanjutkan kegiatan jalan-jalannya.

Namun di tengah jalan, tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang tidak ia kenal datang dan berdiri dihadapannya. “Boleh aku meminta bantuan mu?” tanyanya.

Rupanya orang itu berniat meminta bantuan kepada Nasruddin. Ia pun tidak keberatan untuk membantu orang yang tengah kesulitan itu. Nasruddin menyanggupi dan menanyakan bantuan apa yang lelaki itu butuhkan darinya.

Lelaki itu pun tersenyum bahagia mendengar kesanggupan Nasruddin. “Aku minta tolong tawarkan kurma itu untukku dengan harga yang sesuai.” kantanya sambil menunjuk sebuah toko milik pedagang kurma yang sedang ramai di serbu pembeli di seberang mereka berdua.

Nasruddin mengangguk kemudian berjalan mendekat ke toko kurma itu. Ikut berbaur di tengah kerumunan para pembeli lainnya. Ia mulai melihat-lihat kurma yang menurutnya berkualitas bagus kemudian mulai transaksi tawar menawar dengan si penjual kurma.

Tawar menawar itu berlangsung cukup lama karena Nasruddin merasa si pemilik toko menjual kurma-kurma tersebut dengan harga yang terlalu mahal. Namun setelah beberapa lama, akhirnya ia berhasil membeli sekantung kurma dengan harga yang pantas.

Nasruddin merogoh kantung bajunya dan menyerahkan beberapa keping uang kepada si penjual sebelum berlalu. Kedatangan Nasruddin disambut lelaki tadi dengan tergopoh-gopoh, seraya menanyakan hasilnya.

“Syukurlah, meskipun harus bersusah payah membujuk dan meyakinkan si penjual kurma, akhirnya aku berhasil membelinya dengan harga yang pantas, bahkan ini termasuk cukup murah,” kata Nasruddin penuh rasa bangga terhadap kemampuannya dalam tawar menawar barang.

“Aku ucapkan terimakasih banyak padamu,” ujar lelaki tadi dengan senyuman lebar.

“Tapi aku punya sedikit keinginan, dan aku yakin kamu tidak mungkin keberatan untuk membantuku,” balas Nasruddin.

“Tentu saja. Dengan senang hati aku akan membantumu. Jangan sungkan. Katakan saja apa keinginanmu itu padaku.” kata lelaki itu penuh semangat.

“Jadi begini, aku sudah susah payah menawar kurma yang kamu sukai dan mendapatkannya dengan harga yang cukup murah. Aku rasa belum terlambat kalau aku ingin membeli kurma ini untukku sendiri. Aku harap kamu tidak keberatan dengan keinginanku sebagai imbalan kerja kerasku meyakinkan penjual kurma. Dengan begitu, skor kita satu sama,” kata Nasruddin.