Masalah yang Pelik

Cerita Lucu Mukidi 1

Mukidi dan sang istri yaitu Markonah, sedang mengalami masalah yang cukup pelik. Masalah ini terkait dengan hubungan intim mereka berdua. Apa sebenarnya masalah ini sehingga Mukidi sampai menemui psikolog untuk mengkonsultasikannya?

Pasutri Mukidi dan Markonah mendatangi seorang psikolog untuk meminta bantuan akan masalah yang mereka hadapi. Selama ini, keduanya memang terbilang sangat jarang melakukan hubungan suami istri.

Karena itulah, Mukidi dan Markonah kerap bertengkar. Mukidi merasa bahwa Markonah selalu membuat alasan yang tidak masuk akal saat menolak berhubungan intim. Markonah pun juga membela diri dan berkata bahwa ia sudah capek bekerja mencari nafkah untuk keluarga.

Keributan ini membuat mereka kesal dan memutuskan untuk bertemu psikolog setelah mereka membuat janji. Saat mereka datang, sang psikolog terlebih dulu memanggil Markonah. Markonah sempat terlihat ragu. Namun sang psikolog membuat si Markonah berterus terang.

“Saya ceritakan kronologisnya ya pak. Setiap berangkat kerja, saya harus pakai taksi meskipun tidak punya uang. Si supir taksi memang baik dan bertanya kepada saya ‘mau bayar atau bagaimana’. Berhubung uang saya sedikit, saya pilih yang ‘bagaimana’.

Markonah pun melanjutkan. “Sesampai di kantor saya selalu terlambat dan dimarahi atasan. Lagi-lagi atasan saya juga memberikan penawaran, ‘mau dipecat atau bagaimana’. Tentu saja saya pilih ‘bagaimana’ karena memang saya masih ingin bekerja.”

Ternyata, cerita Markonah tidak berhenti sampai disitu. “Sepulang kantor, saya pulang naik taksi lagi. Karena jauh ongkosnya mahal, tetapi uang saya juga sangat terbatas. Untunglah pak supir sangat baik sehingga memberikan penawaran ‘mau bayar atau bagaimana’. Ya lagi-lagi saya pilih ‘bagaimana’ saja pak. Bapak bisa bayangkan betapa capeknya saya di rumah. Jadi saya sudah tidak mau melayani suami saya lagi.”

Cerita Markonah direspon dengan santai oleh si psikolog. Dia pun menjawab dengan sangat enteng. “Berarti masalahnya ini cukup rumit ya bu Markonah. Saya memahami mengapa Anda berdua sampai meluangkan waktu untuk datang ke psikolog.

Nah, ini mau saya ceritakan ke suami Anda atau bagaimana?”