Anjing Gila

Cerita Lucu Mukidi

Siapapun punya kecenderungan untuk mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi jika jalanan sepi. Tak terkecuali Mukidi. Ia pulang dari luar kota dan melintasi jalanan sepi sepanjang hutan. Selain karena tak ada hambatan, Mukidi juga sering ketakutan jika ada hal-hal mistis yang akan terjadi jika ia memacu mobil dengan pelan.

Kebetulan saat itu sedang bulan puasa. Dini hari itu Mukidi ingin segera sampai di rumah sehingga ia tidak perlu berbuka puasa di jalan. Secepat mungkin ia memacu kendaraannya hingga ia melihat seekor anjing yang melintas secara mendadak. Tidak ada jalan lain selain mengerem meskipun akhirnya Mukidi gagal. Si anjing pun mati terlindas ban mobil Mukidi.

Mukidi sangat terkejut dan menyesal. Tetapi, ia lebih terkejut lagi saat seorang pria muncul dengan membawa senapan. Mukidi setengah ketakutan karena pria tersebut pasti marah kepadanya. Apalagi, ia terlihat seperti pemburu profesional. Tanpa ragu, Mukidi langsung berusaha meminta maaf.

“Mohon maaf, saya terlambat mengerem mobil. Anjing Anda jadi tertabrak,” sesal Mukidi. Si pria mengamati anjing tersebut. “Iya sepertinya ia juga sudah mati.”

Mukidi pun tidak ingin membuang waktu. Ia segera mengeluarkan dompet. Ia kembali bertanya kepada si pria itu apakah si anjing sangat berharga. Si pria tersebut baru hendak membuka mulut tetapi si Mukidi terus menyerocos untuk meminta maaf tanpa henti. Mukidi pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya

“Ini ada uang Rp 300.000. Saya ganti dengan jumlah ini, ya..” pinta Mukidi. Si pria tersebut pun terlihat ragu-ragu.

“Mmmm…. Begini pak… maksud saya…..,” kata si pria tersebut kebingungan.

“Begini saja, saya berikan lagi Rp 200.000. Sehingga total penggantian menjadi  Rp 500.000. Bagaimana, masa masih kurang pak,” kata Mukidi dengan sedikit tidak sabar.

Akhirnya, si pria tadi berkata, “Oke kelihatannya sudah pas.”

Mukidi menyerahkan uang tersebut. Si pria itu pun menyambut lima lembar uang berwarna merah itu dengan berbinar-binar. Mukidi berusaha pamit dengan sopan sambil kembali meminta maaf.

“Oh tidak apa-apa. Memang saya mau menembak anjing gila itu”