Hanya Perasaan

Cerita lucu ngakak bisa kita temukan dimanapun. Termasuk di dalam angkutan umum sekalipun.

Cerita lucu ngakak kali ini akan menceritakan pengalaman seorang nenek yang ingin pergi menengok cucunya yang tinggal jauh. Untuk pergi ke sana, si nenek harus naik angkutan umum dari terminal di dekat rumahnya.

Adalah nenek Tukiyem, nenek berumur delapan puluhan tahun ini masih sangat kuat berjalan kemana-mana sendirian. Suatu hari, nenek Tukiyem berniat menengok cucu kesayangannya yang tinggal di kota seberang. Untuk itu, nenek Tukiyem pergi ke terminal untuk naik angkutan umum yang menuju kota tersebut.

“Ini angkot ke kota Maju Jaya, Mas?”

“Iya, Nek. Ini angkot ke kota Maju Jaya. Kenapa, Nek? Nenek mau ke sana?”

“Iya, nenek mau nengok cucu di sana, Mas. Nenek ikut naik ya, Mas.”

“Eh, nenek mau naik angkot saya memangnya punya uang, Nek?”

“Dasar sopir kurang ajar! Jelas nenek bawa uang. Mau minta berapa? Kalau angkot kamu dijual, nenek pasti beli.”

“Hahaha… Kalau begitu naik saja, Nek.”

Setelah ngetem agak lama, angkot kemudian berangkat menuju kota Maju Jaya. Hanya nenek Tukiyem saja yang ada di angkot tersebut. Belum terlalu lama angkot keluar dari terminal, nenek Tukiyem merasa perutnya mulas.

“Tolong berhenti dulu, Mas. Perut nenek mulas dan melilit. Nenek mau BAB dulu.”

Sayangnya, sopir angkot tidak menghiraukan keluhan nenek Tukiyem.

“Ah, paling hanya perasaan nenek saja. Saya sedang kejar setoran, Nek. Kalau sebentar-bentar berhenti saya tidak dapat penumpang.”

“Sebentar saja, Mas. Nenek sudah tidak tahan.”

“Itu Cuma perasaan nenek saja. Sebentar lagi juga hilang.”

“Ini beneran, Mas bukan Cuma perasaan nenek saja. Nenek sudah kebelet. Sudah tidak tahan lagi.”

“Nenek, saya sedang konsentrasi menyetir. Sudah saya bilang, itu hanya perasaan nenek saja. Nenek hanya perlu diam saja. Jangan banyak bicara.”

“Dasar sopir tidak berperasaan! Teganya menyiksa nenek-nenek.”

Sopir angkot terus menjalankan mobilnya tanpa peduli kepada nenek Tukiyem yang sedang meringis menahan sakit perut.

Tidak lama kemudian, sopir angkot mencium aroma tidak sedap di dalam mobilnya.

“Bau apa ini? Nek? Nenek BAB di angkot saya ya? Waduh, nenek nggak sopan. Masa BAB di angkot.”

“Ah, itu kan hanya perasaan kamu saja, Mas.”

Nah, makanya jangan berani kepada orang tua ya, kalau tidak mau bernasib seperti sopir angkot dalam cerita lucu ngakak di atas.