Upah Untuk Si Pencuri

Humor Sufi 20

Di suatu pagi yang cerah Nasruddin Hoja pergi ke pasar untuk berbelanja. Semalam ia mendapati persediaan barang-barang di rumahnya sudah menipis bahkan habis. Maka disinilah ia sekarang, sibuk memilih barang kebutuhannya di pasar.

Barang-barang belanjaan yang sudah dibayarnya, satu persatu ia masukkan kedalam sebuah keranjang agar lebih mudah membawanya. Terlalu asyik berbrlanja, tak terasa keranjang miliknya sudah penuh.

Karena terlalu banyak, Nasruddin tidak kuat mengangkat keranjang miliknya yang ternyata sangatlah berat. Maka ia hendak meminta bantuan seorang kuli panggul untuk membawakan belanjaan-belanjaan itu dengan upah yang pantas.

Pria itu mulai menoleh ke arah kiri dan kanannya, memburu seorang kuli yang bisa ia mintai bantuan. Sampai pandangannya bertemu dengan seorang lelaki berbadan cukup tinggi dan badannya cukup berisi. Ia pikir, kuli yang satu itu pasti kuat membawakan belanjaannya yang banyak dan berat itu hingga sampai kerumahnya.

Nasruddin pun akhirnya pulang dari pasar bersama kuli panggul tadi yang membawa barang-barangnya dalam sebuah keranjang. Ia berjalan di depan, mendahului si kuli sekalian menunjukkan arah menuju tempat tinggalnya.

Ia terlalu asyik berjalan dengan santai hingga tidak menyadari bahwa kuli panggul yang disewanya sudah tidak berjalan dibelakangnya. Kuli itu kabur dan membawa keranjang penuh belanjaan milik Nasruddin.

Seminggu berlalu, Nasruddin sudah mengikhlaskan dan mencoba melupakan kejadian barang belanjaan miliknya yang dicuri kuli panggul. Hari ini dia kembali pergi ke pasar, di sana ia dihadang oleh salah satu temannya.

“Hai lihatlah Nasruddin! Itu dia orang yang minggu lalu membawa lari keranjang belanjaanmu.” serunya.

Bukannya mengahmpiri si kuli pencuri dan meminta ganti rugi, Nasruddin malah bersembunyi di samping sebuah kios. Ia diam disana sampai kuli panggul yang membawa lari keranjang belanjaannya seminggu lalu itu pergi dari pasar. Baru setelah itu dia keluar dari tempat persembunyiannya dengan membuang nafas lega.

“Apa sebenarnya yang kamu lakukan disitu, Nasruddin? tanya temannya dengan heran.

“Orang itu sudah membawakan keranjangku yang berat selama seminggu. Aku takut dia akan menagih upah seminggunya itu padaku,” jawab Nasruddin. “Bayangkan saja, harga keranjang dan belanjaanku tidak akan cukup untuk membayar upahnya itu.”