Suap Palsu

Tema suap hampir tidak pernah absen dari cerita yang diperankan oleh Nasruddin Hoja. Pasalnya, Nasruddin itu sendiri tinggal di sebuah wilayah yang penguasanya sangat “gila” dengan uang. Tidak mengherankan jika hampir setiap hari, terlihat banyak orang memberikan uang sebagai ucapan terima kasih kepada para penguasa.

Semua orang, tidak luput Nasruddin juga pernah melakukan suap. Berbeda dengan suap pada umumnya, suap yang dilakukan oleh Nasruddin adalah suap palsu yang sering kali membuat penguasa tersebut geram. Mereka baru menyadari kepalsuan itu setelah Nasruddin menyelesaikan semua urusannya dengan para pembesar wilayah tersebut. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa kisah menarik dari Nasruddin tentang suap palsu yang dilakukannya.

Di suatu masa, hiduplah seorang hakim yang sangat suka dengan uang suap. Nasruddin yang memiliki urusan dengan hakim tersebut terpaksa harus melakukan suap agar semua urusan bisa berjalan dengan lancar. Saat itu, Nasruddin yang memiliki rencana untuk melakukan transaksi jual beli berusaha mendapatkan pengukuhan dari sang Hakim.

Nasruddin datang kepada sang Hakim dengan membawa satu kaleng madu murni berukuran besar. Melihat apa yang dibawa Nasruddin, sang Hakim menyambut dengan hangat dan langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas jual beli yang disodorkan di depannya. Mendapati urusannya berjalan dengan lancar, Nasruddin sangat gembira hingga dirinya bisa kembali pulang dengan tenang.

Dua hari kemudian, sang Hakim menemui seorang tamu yang kebetulan juga memiliki urusan penting dengannya. Untuk memperlancar urusan tersebut, orang itu membawa roti yang sangat lezat dalam jumlah banyak. Mendapatkan hadiah tersebut, sang Hakim teringat dengan madu yang didapatkannya dari Nasruddin. Langsung saja, sang Hakim mengambil madu tersebut dan alangkah terkejutnya sang Hakim mendapati isi dalam kaleng hanya gumpalan tanah. Sang Hakim sangat marah mengetahui hal tersebut.

“Cepat panggil Nasruddin kembali. Suruh dia menghadap aku” perintah sang Hakim kepada bawahannya

 “Siap.”

Setibanya di rumah Nasruddin, bawahan sang Hakim mengungkapkan tujuan kedatangannya atas pasal jual belinya yang kurang. Alangkah cerdiknya Nasruddin, diapun memberikan jawaban yang sangat mengagetkan.

“Wahai Saudaraku, tidak ada pasal yang kurang dalam surat jual beli yang aku miliki. Yang kurang justru adalah pikiran dari pak Hakim. Semoga Allah segera meluruskannya.”