Sang Penyelundup

Sebuah kabar burung berhembus kencang hingga ke penjuru negeri. Semua orang kini tengah membicarakan gosip hangat itu hampir sepanjang waktu. Setiap mereka yang tengah berkumpul pasti membicarakan hal yang sama.

Gosip yang tengah menjadi perbincangan itu adalah tentang Nasruddin Hoja. Sang Mullah diduga kini berprofesi sebagai seorang penyelundup. Seluruh penduduk kota mulai mencurigainya. Sehingga setiap kali Nasruddin melewati perbatasan wilayah, penjaga gerbang akan menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis itu dengan sangat teliti.

Mullah Nasruddin pun tidak bisa menghindar begitu saja, karena memang untuk mengajar ia harus selalu melintasi wilayah perbatasan. Namun setelah menggeledah dalam waktu yang lebih lama dari pada biasanya, penjaga gerbang tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Ia tahu tentang berita miring yang tengah disematkan padanya, tapi Nasruddin menunjukkan sikap yang acuh saja. Membiarkan semua orang sibuk membicarakannya disana-sini tanpa membenarkan atau membantahnya.

Para petugas keamanan wilayah pun tidak bisa menangkap Mullah Nasruddin karena selama ini memang tidak ada sebuah bukti yang menunjukan berita itu benar adanya. Penjaga hanya percaya bahwa berita profesi Nasruddin sebagai penyelundup adalah benar adanya.

Mereka terus berusaha mengungkap kebenaran akan masalah itu. Namun hingga cukup lama belum menemukan titik terang. Baik bukti berupa barang ataupun seorang saksi yang melihat transaksi dari penyelundupan pun tidak dapat ditemukan.

Menurut sang penjaga, Mullah Nasruddin terlalu rapih dan sudah memperhitungkan segalanya dengan matang. Sehingga semua kebenaran itu menjadi sulit untuk diungkapkan. Para penjaga pun kebingungan sendiri menghadapi Nasruddin,

Hingga sampai pada suatu malam, datanglah salah seorang penjaga ke rumah Mullah Nasruddin dan mengetuk pintu. Penjaga itu menunggu pintu terbuka beberapa saat setelah terdengar sahutan dari sang pemilik rumah.

Sang penjaga enggan berbasa-basi dengan Nasruddin dan langsung menyampaikan maksud kedatangnnya dengan mimik wajah tegas. “Aku tau Mullah, kamu adalah seorang penyelundup,”ucapnya. “Tapi aku menyerah, karena aku tidak pernah bisa menemukan barang yang kamu selundupan. Sekarang, jawablah rasa penasaranku, apa yang kamu selundupkan?”

“Jubah,” jawab Nasruddin mantap.