Cukup Seliter

Cerita Lucu Ngakak Abis 2Ada banyak hal yang ada di sekitar dan terjadi sehari-hari bisa dijadikan sebagai bahan humor tanpa menyakiti orang lain. Seni melucu memang tidak semudah itu, tetapi bisa berasal dari sesuatu yang sederhana kemudian dibumbui agar menjadi hal yang menarik untuk diceritakan. Tentunya sesuatu yang bisa membuat orang lain tertawa.

Saat menyampaikan cerita humor, tentunya ada banyak hal yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Aspek-aspek tersebut justru yang akan membuat ceritanya menjadi semakin lucu dan menarik untuk dibaca atau didengarkan. Sehingga jika Anda ingin melakukannya maka perlu untuk mengetahui berbagai aspek tersebut sebaik mungkin.

Membuat cerita lucu ngakak abis harus menyasar dengan baik pada titik lucu atau tingkat humor yang tinggi. Begitu saat orang lain membaca atau mendengarnya maka mereka akan langsung menangkap maksudnya dan tertawa dengan lelucon tersebut. Meskipun memang untuk melakukan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah.

Jika Anda membuat cerita yang lucu berangkat dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari maka harus dilihat bagaimana cara untuk membuatnya menjadi lucu. Namun jangan sampai terkesan dibuat-buat sehingga tidak akan menggelitik orang lain untuk tertawa.

Baca Juga:  Bangunkan Kalau Sudah di Purwokerto

Cerita Humor Ngakak Abis, Seliter Mati Sendiri

Di sebuah perusahaan pemerahan sapi, Pardi dan Roni bekerja bersama. Mereka dua orang sahabat yang memang sudah lama kenal dan berteman baik di dalam dunia pekerjaan maupun di luar itu. Mereka berdua mengelola seratus ekor sapi dengan masing-masing menangani 50 ekor.

Suatu hari, Roni merasa bahwa pekerjaannya mengurus 50 ekor sapi itu terlalu berat. Kemudian sebagai seorang lulusan STM, dia mengatakan pada bosnya, “ Bos ada alat baru untuk memerah sapi dari Jepang yang canggih dan berteknologi tinggi. Bagaimana kalau kita membelinya?” Tanggapan bosnya begitu santai, “Oke, kamu saja saya kirim ke Jepang. Beli dan pelajari bagaimana cara menggunakannya.”

Karena perintah bosnya, Roni pun berangkat ke Jepang untuk mendapatkan alat tersebut. Sementara Pardi yang memang tidak terlalu pandai, tetap tinggal di tempat pemerahan sapi melakukan pekerjaannya seperti hari-hari sebelumnya. Dia tetap melakukan pekerjaannya seperti saat Roni ada di sana tanpa mengeluh sama sekali pada bosnya.

Baca Juga:  Chilo, Si Lipan yang Berotak Cemerlang

Setelah dua bulan berlalu, Roni kembali dari Jepang dan menunjukkan alat yang dibelinya kepada Pardi. Roni juga sekaligus mempraktikkan cara menggunakan alat itu di depan Pardi. Tentu saja dengan kecanggihannya mampu menarik perhatian Pardi dan kemudian meminta pada Roni untuk meminjamkannya. Pardi sangat terpukau dengan kecanggihan alat tersebut.

Saat Pardi bertanya bagaimana cara menggunakannya, Roni hanya menjawab, “ Langsung tancepin aja.” Dibawalah alat itu ke kamar mandi oleh Pardi, tetapi Roni tidak menyadari hal itu. Roni tetap melanjutkan aktivitasnya dengan santai tanpa peduli apa yang sedang dilakukan oleh Pardi.

Di dalam kamar mandi, Pardi menancapkan alat tersebut ke onderdilnya. Namun setelah tiga kali keluar, dia merasa heran karena alat tersebut tidak bisa berhenti. Dia berteriak, “Ron gimana matiinnya?” Karena Roni tidak mengetahui apa yang terjadi dia menjawab dengan santai, “Nggak usah khawatir, alatnya otomatis kok, kalau udah seliter dia mati sendiri.”