Kaos Kesayangan

Cerita Lucu Mukidi 7

Para pembaca setia kisah Mukidi pasti mengetahui bahwa Mukidi dan Markonah adalah pasangan serasi. Saking romantisnya kisah mereka berdua, para pembaca pasti mengira bahwa Mukidi dan Markonah adalah ‘first love’. Padahal, Mukidi sebelumnya pernah menjalin kasih dengan Supilah. Hubungan ini tidak berlanjut gara-gara hal yang sangat klise. Apa hal ‘klise’ itu?

Di hari Sabtu malam, tibalah waktunya Mukidi datang ke rumah Supilah. Namun, tidak seperti biasanya, Supilah menunjukkan raut wajah sedih. Tidak seperti biasanya, Supilah juga seolah menyembunyikan sesuatu. Mukidi pun mempertanyakan sikap Supilah ini. Supilah ternyata ingin memutuskan hubungan. Sontak, Mukidi terkejut. Ia bertanya apakah ada pria lain yang mengisi hatinya.

“Bapakku tidak menyetujui hubungan kita, mas,” kata Supilah. Entah alasan ini benar atau tidak, tetapi Mukidi tentu sangat sedih. Mukidi tidak dapat berkata apa-apa jika alasan ini menjadi alasan utama pemutusan hubungan sepihak dari si Supilah.

Mukidi pun meninggalkan Supilah tanpa berbicara sepatah katapun. Sekilas, ia melihat kaos produksi Bali yang terkenal dengan kata-kata lucunya itu. Ia pun mengambil kaos itu dan berkata, “Untuk kenang-kenangan.”

Tentu, Supilah kaget.  “Jangan dibawa kaos itu, mas,” seru Supilah.

Mukidi tidak menanggapi. Ia langsung menuju motor kesayangannya dan memacunya dengan kencang. Bagi Mukidi, hari itu adalah hari paling suram di dalam hidupnya. Ia pun menyimpan kaos tersebut di dalam kamarnya.

Selama seminggu, ia hanya mengurung diri di kamar. Ia hanya bisa memeluk kaos itu dan menciuminya. Ia tidak peduli bau dari kaos tersebut karena ia lebih merindukan sosok Supilah ketimbang mempertimbangkan aroma kaos itu.

Hingga suatu hari, ponselnya berbunyi. Sungguh ia terkejut karena mantan kekasih yang sangat dirindukan itu ternyata menelepon dirinya. Ia pun melompat-lompat kegirangan. “Dik Supilah… apa kabar?” kata Mukidi girang.  Supilah menjawab, “Baik mas. Ini lo bapak menanyakan Mas Mukidi.”

Tentu saja Mukidi sangat senang dan menganggap bahwa si orang tua tidak tahu diri itu akhirnya sadar bahwa ia adalah calon menantu terbaik. “Mas, kata bapak suruh mengembalikan kaosnya karena itu kaos kesayangan bapak yang belum dicuci,” jawab Supilah.