Tamparan Untuk Raja

Cerita Lucu Abu Nawas 20

Suatu ketika Abu Nawas pergi kerumah seorang yang dikenalnya. Disana tengah ramai orang-orang berpesta dan bermain musik. Ada yang menari, ada yang bermain kecapi dan lain sebagainya. Semua bergembira ria menikmati suasana bersama-sama termasuk Abu Nawas.

Saat para tamu sudah merasa kehausan, sang tuan rumah memberikan kopi dan Abu Nawas pun mendapatkan kopi tersebut. Ketika ingin meminumnya tanpa diduga Abu Nawas mendapatkan tamparan dari pria Yahudi. Karena malam tersebut adalah malam bersuka cita maka Abu Nawas pun hanya diam dan kembali menikmati kopi yang disuguhkan. Namun lagi-lagi Abu Nawas mendapatkan tamparan dari pria Yahudi tersebut.

Acara selesai sekitar pukul 02.00 dini hari, Abu Nawas pulang sembari memikir ternyata sudah banyak tamparan yang ia dapatkan. Ia berfikir bahwa perbuatan pria Yahudi tersebut sungguh kejam. Namun apalah daya, Abu Nawas tidak bisa melawannya. Karena perbuatan jahat tersebut tidak boleh dibiarkan lama-lama, Abu Nawas akhirnya memiliki inisiatif cerdas.

Keesokan harinya, Abu Nawas datang ke istana menghadap Raja. Ia menuturkan bahwa di negeri Baghdad terdapat permainan baru yang aneh dan belum pernah ia kenal.

“Dimana letaknya?”, tanya sang Baginda Raja penasaran.

“Di tepi hutan”, jawab Abu Nawas.

“Mari kita lihat”, seru Baginda Raja.

“Nanti malam hamba dan Baginda pergi berdua saja, Baginda bisa memakai baju santri”, ajak Abu Nawas.

Malam harinya ba’da Isya, Abu Nawas dan Baginda Raja pergi kerumah pria Yahudi tersebut. dan benar disana tengah ramai orang-orang sedang bersuka cita bermain musik dan menari. Baginda pun ikut masuk dan diajak menari oleh para tamu yang hadir. Namun Baginda menolak dan memilih untuk duduk. Tidak disangka Baginda mendapatkan tamparan keras dari pria Yahudi.

Karena posisi Baginda yang tidak bisa melawan orang sebanyak itu, akhirnya Baginda pun ikut menari meskipun dengan perutnya yang buncit. Lelah menari turunlah suguhan kopi dari tuan rumah. Baginda pun hendak meminumnya karena sangat kehausan, tapi nyatanya Beliau mendapat tamparan kembali. Begitu seterusnya hingga Beliau ditampar berkali-kali. Abu Nawas yang berpamitan ke kamar mandi ternyata meninggalkan Baginda dan pulang kerumah.

Keesokan harinya Baginda memanggil Abu Nawas dan memarahinya. Abu Nawas pun menjelaskan bahwa ia pun juga menerima perlakuan yang sama dari pria Yahudi. Jika Abu Nawas hanya mengadukannya tanpa bukti maka Baginda tidak akan percaya.

Dipanggillah pria Yahudi ke istana dan ia dihukum berat oleh Baginda. Semenjak itu, Baginda lebih sering memperhatikan rakyatnya dan berterima kasih pada Abu Nawas.