Mengambil Mahkota

Cerita Lucu Abu Nawas 9

Tidak seperti biasanya, pada hari itu Baginda Raja tiba-tiba saja ingin menyamar menjadi seorang rakyat biasa. Baginda pun keluar dari istana mengenakan pakaian yang sederhana agar bisa menyaksikan kehidupan rakyat di luar istana.

Di sebuah kampung Baginda melihat sejumlah rakyat sedang berkumpul. Ternyata kumpulan tersebut adalah seorang ulama yag sedang menyampaikan kuliah pada orang-orang mengenai alam barzah. Tiba-tiba datanglah seorang asing ikut bergabung dan bertanya pada ulama.

“Kami menyaksikan para orang kafir di alam barzah dengan mengintip kuburnya, namun kami tidak mendengar teriakan mereka ataupun penyiksaan seperti yang dikatakan banyak ulama. Maka bagaimana cara kami membenarkan sesuatu yang berbeda dengan penglihatan mata?” ungkap orang itu.

Ulama tersebut menjawab, “untuk mengetahui hal gaib maka kita harus memiliki panca indra lain. Ingatkah kamu bagaimana orang sedang tidur dan bermimpi dikerumuni ular atau gangguan lainnya. Orang yang bermimpi tersebut merasa takut, berkeringat atau mungkin bahkan berteriak karena merasa mimpinya seperti sebuah kenyataan. Adapun orang yang ada disampingnya tidak melihat apa-apa seakan tidak ada kejadian apa-apa. Maka jika mimpi saja tidak bisa dilihat dengan mata lantas bagaimana dengan apa yang terjadi di alam barzah? Sanggupkah kita mengetahuinya?” jelas ulama tersebut.

Baginda terkesan dengan ungkapan ulama tersebut dan kembali mendengarkan kuliahnya yang kini tentang alam akhirat. Ia mengatakan bahwa surga menyediakan apa saja yang amat dicintai nafsu, termasuk benda-benda, salah satunya mahkota. Tidak ada barang yang lebih indah dari pada barang yang ada di surga sebab semuanya tercipta dari cahaya. Bahkan mahkota tersebut lebih indah dari dunia seisinya.

Baginda pun semakin terkesan dan kembali pulang. Setibanya di istana ia menginginkan mahkota sembari menguji kecerdikan Abu Nawas. Baginda memerintahkan menterinya untuk memanggil Abu Nawas dan memintanya untuk membawakan mahkota surga.

Abu Nawas menyanggupi permintaan Baginda namun dengan satu syarat yakni Baginda harus menyediakan pintu alam akhirat yang tak lain adalah kiamat. Abu Nawas menjelaskan bahwa masing-masing alam memiliki pintu. Liang peranakan ibu adalah pintu alam dunia.

Kematian adalah pintu alam barzah, sedangkan kiamat adalah pintu alam akhirat. Karena surga terletak di alam akhirat maka jika Baginda ingin memiliki mahkota surga maka dunia harus kiamat terlebih dahulu.

Mendengar penjelasan Abu Nawas Baginda hanya terdiam dan akhirnya Abu Nawas pun pergi meninggalkan istana.