Resep Lidah Kambing

Humor Sufi 36

Nasruddin Hoja semalaman berpikir keras tentang menu apa yang akan dimasaknya untuk esok hari. Ia sedang tidak ingin memakan sayuran, setelah lama menimbang-nimbang pilihannya jatuh pada lidah kambing. Akhirnya malam itu dia segera pergi tidur, tidak sabar menunggu pagi untuk pergi ke pasar.

Pagi-pagi sekali Nasruddin pergi ke pasar dan kini ditangan kirinya sudah menenteng sekantung plastik lidah kambing. Ia pun bergegas pulang agar bisa segera memasaknya menjadi hidangan yang lezat.

Di tengah perjalanan dia bertemu dengan salah satu teman yang menyapanya. “Akan kamu masak apa lidah kambing itu Nasruddin?” tanyanya.

“Akan aku masak seperti biasa,” jawabnya.

“Kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu resep baru dan agar rasanya lebih enak,” tawar teman Nasruddin itu.

“Baiklah, tapi kamu bisa tulis saja cara-cara memasak yang akan kamu ajarkan itu di kertas. Aku akan membaca dan mempraktikkannya di rumah nanti,” kata Nasruddin.

Temannya itu mengiyakan, tidak keberatan menuliskan tata cara memasak lidah kambing itu kepada Nasruddin.

Usai menerima resep masakan baru dari temannya itu, Nasruddin meneruskan perjalanan pulang dengan hari yang gembira. Karena ia pikir kali ini dia akan memasak lidah kambing dengan resep baru yang akan lebih lezat dari biasanya.

Dia sungguh tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Membayangkan betapa lezatnya masakan lidah kambingnya saja sudah berhasil membuat air liurnya hampir menetes.

Namun sayangnya, tiba-tiba saja datang seekor elang yang turun kemudian menyambar kantung plastik berisi lidah kambingnya. Kantong yang berada di sebelah tangannya itu pun terlepas dan dibawa terbang tinggi oleh si burung elang.

Nasruddin terkejut bukan main dengan kejadian yang hanya berlangsung selama beberapa detik tersebut. Namun raut keterkejutannya itu hanya bertahan sebentar saja. Bahkan wajahnya juga tidak menunjukkan mimik sedih.

Tangan kanannya bergerak ke dalam saku bajunya, mengambil lipatan kertas berisi resep yang ditulis oleh temannya. Kemudian diacungkannya kertas itu ke arah burung elang tadi dengan teriakan keras, “Percuma ! kamu tidak akan bisa memakannya ! Resepnya hanya ada padaku !”