Paku Kesayangan

Humor Sufi 44

Karena keterbatasan uang, kini Nasruddin Hoja memutuskan untuk menjual rumah yang selama ini ditempatinya. Tidak unik kalau bukan Nasruddin, sebab dalam jual beli tanah beserta rumah tersebut, dia mengajukan sebuah persyaratan yang bisa dibilang sangat aneh.

“Barang siapa yang ingin membeli rumahku, maka kalian akan mendapatkan semua yang ada di dalam rumah tersebut kecuali sebuah paku yang tertancap di dapur.” kata Nasruddin

Dengan adanya persyaratan tersebut, nampaknya agak sulit untuk mendapatkan pembeli yang mau menerima penawaran aneh dari Nasruddin. Namun demikian, Nasruddin tidak putus asa hingga pada akhirnya datang seorang pria yang ingin membeli rumah tersebut.

“Apakah engkau tahu kesepakatan yang harus kamu setujui?” tanya Nasruddin

“Iya, aku tahu. Kau menginginkan paku yang tertancap di dapur, bukan?” jawab pembeli

“Benar sekali.”

Setelah akad jual beli tersebut berlangsung, kini saatnya Nasruddin mulai menjalankan triknya. Di saat pemilik rumah baru sedang menikmati sarapan pagi, Nasruddin secara tiba-tiba muncul di rumahnya.

“Wahai sahabat, aku ingin melihat paku kesayanganku.” kata Nasruddin

“Silahkan langsung ke dapur, sahabat.” jawab pemilik rumah

“Terima kasih.”

“Oh, iya. Kami sedang menikmati sarapan. Sudikah engkau bergabung dengan kami?”

“Dengan senang hati,” jawab Nasruddin

Namun, siapa sangka di saat jam makan siang tiba, Nasruddinpun kembali muncul di rumahnya yang sudah terjual. Lagi-lagi, dia bermaksud untuk melihat keadaan paku kesayangannya.

“Selamat siang, sahabat. Aku ingin sekali bercanda dengan paku kesayanganku siang ini.”

“Kalau begitu, langsung saja engkau menuju dapur kami.” jawab pemilik rumah

Mendapati pemilik rumah akan menikmati hidangan makan siang, Nasruddinpun kembali diajak untuk menyantap makanan bersama-sama. Tanpa berkomentar, Nasruddin langsung menerima.

Namun, siapa sangka jika lagi-lagi Nasruddin muncul untuk ketiga kalinya di malam hari di saat makan malam akan tiba. Dia mengatakan jika ingin melihat kondisi paku tersebut, apakah sudah berkarat atau belum. Tanpa mengurangi rasa hormat, pihak tuan rumah mengajak Nasruddin untuk menikmati jamuan makan malam.

Nasib sial terjadi pada pembeli rumah tersebut karena di setiap jam makan tiba, Nasruddin selalu muncul dengan alasan yang bermacam-macam. Hingga pada akhirnya, karena ketidaknyamanan itulah, pemilik rumah baru tersebut mengembalikan rumah Nasruddin tanpa mengajukan syarat apapun.