Jenis-jenis dan Media Cerita Lucu

Tertawa ibarat obat yang bisa mencairkan dan menghangatkan suasana kaku. Respons ini biasanya muncul dari cerita lucu yang disampaikan, didengar, atau dibaca melalui suatu media. Bahkan, ada anggapan bahwa tertawa itu sebuah bahasa universal dan menjadi salah satu cara pertama manusia berkomunikasi.

Manusia tertawa untuk mengekspresikan kebahagiaan atau kegembiraan dalam situasi tertentu. Ekspresi tertawa itu muncul sebelum kita bisa berbicara atau menulis suatu bahasa. Boleh dibilang, cerita lucu atau humor menjadi jembatan komunikasi antara ragam bahasa, budaya, usia, dan demografi. Suatu humor bisa memunculkan respons tawa jika mengandung minimal satu unsur-unsur berikut:

  1. Kejutan (surprise)
  2. Sesuatu yang tidak masuk akal (irrationality)
  3. Sesuatu yang memunculkan rasa malu (embarrassment)
  4. Sesuatu yang berlebihan atau membesarkan masalah (hyperbolic).

Keempat unsur itu bisa tampil melalui kata-kata atau satuan bahasa yang sengaja dikreasikan secara unik oleh pelakunya. Kata-kata ini dapat dimainkan melalui media cerita lucu lainnya, seperti kartun, komik, meme, atau secara lisan melalui lawak, dagelan, dan ludruk.

Seiring waktu, cerita-cerita yang mengundang tawa ini pun hadir dalam berbagai bentuk dan media berbeda. Apa sajakah jenis-jenis cerita lucu dan media untuk menyampaikannya? Mari simak ulasan berikut.

Jenis-jenis Cerita Lucu

Seperti jenis cerita lain, humor sejatinya berupa permainan kata. Ketika kata-kata itu diramu secara tepat, Anda bisa mengharapkan respons tawa dari audiens yang membaca, mendengar, atau melihatnya. Namun, cerita ini tidak selalu menyebabkan orang lantas tertawa. Ada yang bisa merasa terhibur, tetapi ada pula yang justru merasa tersindir, tersinggung, hingga muncul rasa geram.

Hal ini terjadi lantaran terdapat sebuah konteks yang berbeda pada setiap jenis cerita yang disampaikan. Semua bergantung pada tujuan si pencerita, untuk apa ia menciptakan dan menyampaikan cerita itu. Isi atau konten inilah yang menjadi dasar pengelompokan jenis-jenis cerita lucu, seperti disebutkan di bawah ini.

1. Slapstick

Slapstick merupakan jenis humor yang paling sederhana. Humor ini kerap pula dikenal dengan nama humor fisik. Dalam praktiknya, slapstick dilakukan dengan menggunakan anggota tubuh sebagai sarana melucu. Terkadang, kamu bisa menemukan slapstick yang dilakukan dengan bertindak konyol, menampilkan ekspresi wajah lucu, dan bahkan disertai dengan kekerasan.

Ada tiga unsur yang sering muncul dalam gaya berhumor ini, yaitu celaka, derita, dan aniaya. Warkop DKI sering menampilkan humor ini.

2. Observational comedy

Observasi juga bisa menjadi modal untuk melontarkan candaan yang lucu. Orang yang punya kemampuan observasi bagus, bisa menjadikan bahan-bahan yang dilihat, didengar, atau dirasakannya sebagai bahan lelucon.

Pencipta humor ini berusaha membesarkan pentingnya hal-hal kecil dari keseharian masyarakat. Kadang ditambah dengan mengamati kekonyolan yang muncul dari kejadian aktual, seperti dari berita politik, hiburan, olahraga, dan budaya.

3. Surreal comedy

Cerita pada gaya humor ini muncul dari sesuatu yang sebetulnya tidak masuk akal, tidak nyata. Kadang malah terasa absurd dan aneh, serta sering di luar akal sehat. Nyaris tidak bisa dinalar, tetapi ketika didengarkan justru terasa lucu dan menggelitik.

4. Character comedy

Humor ini berdasar pada kepiawaian seorang komedian menciptakan sebuah karakter lucu. Karakter itu bisa muncul dari stereotipe terhadap sosok tertentu. Bisa juga dari hasil meniru karakter seseorang. Komedi karakter mengandalkan ekspresi unik sang komedian dalam beremosi, bertingkah laku, dan bermimik lucu.

5. Alternative comedy

Penyampaian cerita lucu melalui cara berbeda dibandingkan cara penyampaian yang umum pada suatu era tertentu. Komedi ini muncul sebagai bentuk kebalikan atau lawan dari gaya bercerita yang tengah populer. Contoh, alih-alih melucu dengan gaya slapstick, pelaku komedi alternatif memilih menggabungkan komedi surealis dan karakter,

6. Black comedy

Dikenal juga dengan sebutan dark comedy karena mengangkat topik “berat” dan gelap dari kehidupan sehari-hari. Kejadian aktual yang terjadi di dunia nyata menjadi sumber cerita humornya, seperti kematian, peperangan, terorisme, rasisme, dan agama.

Jenis humor gelap menjadi salah satu candaan yang bagi sebagian besar orang bakal sulit untuk dipahami. Apalagi, gaya humor yang satu ini biasanya menggunakan tema-tema yang memberi tekanan. Pada satu momen, akan disertai dengan lelucon atau hal yang tak biasa di dalamnya.

7. Blue comedy

Cerita yang diangkat bersifat seksual. Tema kehidupan seksual terkait libido dan tema tabu lainnya menjadi sumber kisah lucu yang mengundang tawa. Tak jarang diselipkan humor yang membawa unsur gender atau ras.

8. Cringe comedy

Kejadian memalukan atau canggung terangkai melalui jenis cerita humor ini. Biasanya cringe comedy sering tampil lewat pertunjukan televisi dan film, tetapi belakangan juga muncul melalui stand-upcomedy.

9. Prop comedy

Cerita prop comedy mengandalkan properti berbentuk aneh. Bisa juga dari properti biasa yang dipakai sedemikian rupa, sehingga terlihat lucu dan mengundang tawa. Penampilan sang komedian juga menjadi sumber cerita prop comedy.

10. Sketch comedy

Cerita yang disampaikan berdurasi singkat (maksimal 10 menit), tetapi mengacu pada suatu skema terstruktur. Biasanya ditampilkan secara langsung, sehingga tingkah polah pelaku dapat membuat audiens terkejut karena tidak menduganya.

Media Cerita Lucu

Dari sekian banyak jenis cerita lucu tadi, ada beragam media yang biasa dipakai untuk menyampaikannya kepada audiens. Anda pasti sudah akrab dengan media cerita lucu berikut ini.

1. Buku dan komik

Buku boleh dibilang sebagai media paling familier. Anda bisa menemukan kumpulan cerita lucu dalam buku dan komik dalam berbagai bentuk. Buku yang dimaksud bisa berupa novel, kumpulan cerita pendek, cerita lucu sehari-hari, hingga buku berisi tebak-tebakan.

Buku yang memuat kisah lucu itu bisa mengandung gambar atau murni hanya rangkaian kata. Berbeda dengan komik, gambar di buku yang bercerita lucu berfungsi sebagai ilustrasi, bukan menjadi daya tarik utama buku itu. Rangkaian kata yang kreatif, jahil, menggelitik, dan kadang nakal itulah yang bertugas meledakkan imajinasi para pembacanya.

Ada banyak buku bergenre komedi yang laris di pasaran. Salah satunya termasuk novel legendaris remaja era 90-an, yaitu Lupus karya Hilman Hariwijaya. Lalu, ada komika Raditya Dika yanghampir semua bukunya terinspirasi dari kisah sehari-hari, seperti Manusia Setengah Salmon, Koala Kumal, dan Ubur-ubur Lembur.

Sementara, komik justru menjadikan gambar sebagai media cerita lucu. Biasanya gambar-gambar ini dirangkai dengan teks atau informasi visual lain. Beberapa panel berurutan digambar berdampingan untuk memudahkan pembaca menangkap ide sang penggagas cerita.

Komik bercerita lucu juga diramaikan oleh kehadiran mangaalias komik asal Jepang dengan genre komedi. Contohnya, Hai, Miiko! karya Eriko Ono, Doraemon karya Fujiko F. Fujio, dan Yotsubato! karya KiyohikoAzuma.

Sedangkan komik lucu Indonesia lebih mudah ditemui dalam bentuk komik strip. Contohnya, Panji Koming karya Dwi Koendoro, MiceCartoon Indonesia karya Muhammad Mirsad, dan Si Juki karya Faza Meonk.

Kelebihan buku dan komik sebagai media cerita adalah tak lekang oleh waktu. Cerita lawas seperti Lupus bisa dinikmati lagi oleh pembaca sekarang. Imajinasi pembaca pun bebas menginterpretasikan kelucuan yang ingin disampaikan penulis.

Kekurangannya, humor dalam buku dan komik tidak up-to-datedengan situasi saat ini. Hanya segmen pembaca usia tertentu yang bisa terhubung dengan kelucuan yang ditulis. Di sisi lain, ada kemungkinan pembaca menginterpretasikan pesan cerita secara berbeda karena hanya tersaji melalui kata-kata dan gambar.

2. Televisi

Media cerita lucu berikutnya adalah televisi. Setelah kehadiran TVRI sebagai stasiun televisi nasional pertama, kemunculan stasiun televisi swasta di awal era 1990-an menghadirkan berbagai acara televisi. Sebisa mungkin acara tersebut cocok untuk berbagai kalangan usia, mengingat penonton televisi bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Genre komedi dipandang sebagai acara televisi yang “aman” untuk semua usia. Jenis acara yang ditayangkan antara lain sinetron komedi berupa sitkom, acara lawak, acara prankyang penuh kejahilan, dan sketsa komedi.

Contoh acara tersebut pun sebagian besar tak asing di telinga Anda yang besar di era 1990-an hingga 2000-an. Misalnya,Srimulat (1986, tayang di TVRI dan 1995 di Indosiar), Lenong Rumpi (1989, RCTI) Gara-gara (1993, RCTI), Ngelaba (1995, TPI), Spontan (1996, SCTV), Bajaj Bajuri (2004, Trans TV), Extravaganza (2004, Trans TV), dan Ini Talkshow (2014, NET).

Kelebihan televisi sebagai media cerita lucu adalah pesan cerita yang dibawakan bisa tepat sasaran karena disampaikan melalui mimik wajah, gerakan, dan suara. Ekspresi kelucuannya tampak lebih jelas.

Kekurangannya, humor dalam tayangan televisi bisa menimbulkan respons penonton yang berbeda. Memang humor itu bersifat relatif. Lucu untuk seseorang, belum tentu lucu bagi pihak lain. Wajar jika ada adegan lucu-lucuan yang justru bisa menyinggung perasaan orang tertentu atau membuat penonton kurang berkenan.

3. Radio

Radio di Indonesia sudah ada sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945 tersebar dengan cepat berkat peran radio yang menyiarkan isi teks Proklamasi ke berbagai penjuru tanah air dan dunia. Radio menjadi media massa yang paling banyak menjangkau masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil sekalipun.

Biaya murah, area jangkauan luas, pendengar yang beragam, membuat radio berperan penting dalam komunikasi masyarakat dari masa ke masa. Selain menyiarkan informasi yang dikemas dalam berita, acara radio juga berperan sebagai sarana hiburan. Mulai dari musik, drama radio, hingga cerita-cerita lucu.

Beberapa program yang dinilai sukses mengundang tawa pendengar antara lain The Dandees (Danang &Darto, Prambors), Salah Sambung (Kemal, Diaz, dan TJ, Gen FM), dan Tawco (Tike Priatnakusuma dan Ronal Surapradja, Jak FM).

Karena mengandalkan kata-kata yang diucapkan secara lisan, maka peran penyiar dan skrip lucu menjadi penting. Di satu sisi ini menjadi kelebihan penyampaian cerita lucu humor melalui radio. Di sisi lain, bisa saja pendengar merespons cerita tersebut secara berbeda karena hanya mendengar tanpa melihat ekspresi atau gerakan si penyiar.

4. Website

Sekarang tiada hari tanpa mengakses website, baik melalui laptop/PC maupun smartphone. Laman berisi teks, gambar, suara, video, dan infografik ini menjadi tujuan Anda untuk memperoleh suatu informasi, baik yang bersifat edukasi, promosi, maupun hiburan, termasuk cerita lucu.

Beberapa contoh website yang menampilkan konten lucu antara lain openpuppies, sbmc-comics, ketawa.com, 1cak, 9Gag, Meme Comic Indonesia, dan CollegeHumor.

Kelebihan website sebagai media cerita lucu hampir sama seperti buku dan komik, tidak lekang dimakan waktu. Ada candaan yang sudah muncul beberapa tahun lalu masih bisa menimbulkan reaksi sama dari pembacanya ketika dibaca lagi.

Selain itu, website juga bisa menampilkan cerita lucu terbaru dari kejadian aktual saat ini. Bahkan, dalam beberapa waktu setelah kejadian berlangsung, cerita-cerita lucu dan kocak terkait kejadian itu sudah bisa tersebar di internet.

Namun, inilah yang menjadi bumerang bagi cerita serupa di internet. Sesuatu yang mudah viral kadang mudah pula dilupakan begitu ada cerita lain yang lebih menarik. Arus informasi di website tergolong cepat, sehingga satu cerita hari ini bisa berlalu tanpa jejak jika tidak diabadikan dalam media lain (seperti blog).

5. Media Sosial

Cerita lucu kocak juga beredar melalui media sosial. Anda bisa mendapatkan humor dan candaan menggelikan dari status, cuitan, atau gambar-gambar lucu yang di-postingdi timeline. Konten lucu biasanya lebih sering dibagikan orang-orang di media sosial, sehingga cepat sekali viral.

Namun, namanya saja viral, pasti ada musimnya. Tidak semua konten viral itu berlangsung lama, kadang hanya berlangsung sesaat karena ada konten serupa yang lebih lucu. Konten cerita lucu bisa Anda temukan di Facebook, Twitter, atau Instagram, tiga media sosial teratas saat ini, serta podcast.

Kelebihan dan kekurangan menayangkan cerita-cerita lucu di media sosial mirip dengan website. Apalagi, timelinemedia sosial bisa berubah cepat seiring semakin banyak postingyang diunggah. Itulah mengapa fitur “save” atau menyimpan dirasa perlu bagi pengguna sosial untuk menandai unggahan informasi maupun cerita menarik.

Media Cerita Lucu yang Tren Saat Ini

Kalau Anda bertanya apa sih media cerita lucu yang sedang tren saat ini, maka jawabannya akan mengarah kepada media sosial (Facebook, Twitter, dan Instagram) dan podcast. Apa yang membuat media ini naik daun?

Pertama, karena semua bisa Anda akses dengan mudah melalui smartphone. Hampir semua orang mempunyai aplikasi media sosial dalam ponsel pintarnya. Begitu pula dengan podcast, siapa sih yang tidak punya aplikasi music streamingdi ponsel?

Kedua, media sosial dan podcast menampilkan informasi secara singkat, padat, dan jelas. Anda tidak usah menghabiskan waktu lama untuk membaca dan menangkap pesan dari informasi tersebut. Cukup habiskan beberapa menit saja, Anda bisa memahami apa pesan yang ingin disampaikan. Malah, melalui podcastAnda bisa mendengarkan sambil beraktivitas, mirip seperti mendengar radio.

Ketiga, media sosial bersifat interaktif. Anda sebagai followersuatu akun bisa berinteraksi dengan pemilik akun atau sesama follower.Sementara podcastmenawarkan sesi mengobrol yang terasa lebih personal, seperti mendengar teman berbincang-bincang. Keduanya sama-sama menciptakan keakraban antara penyedia konten dan follower.

Keempat, konten lucu di media sosial dan podcast bisa dibagikan dan diviralkan dengan mudah. Hanya dengan satu klik, cerita lucu Facebook atau cerita lucu Twitter bisa Anda bagikan di media sosial pribadi. Beberapa contoh akun media sosial yang dapat Anda ikuti adalah 1cak, dagelan, tahilalats, dan recehtapisayang.

Sementara, beberapa selebgram yang terkenal dengan kepiawaian melucu juga punya kanal podcastsendiri. Sebagai contoh, Rapot yang berisi Reza Chandika, Ankatama, Radhini, dan Nastasha Abigail yang mengisi konten dengan obrolan sehari-hari. Lalu, ada UnfaedahPodcast dari Lawless Jakarta dan PodcastRetropus dari Randy dan Febri.

Singkat kata, media sosial dan podcastmenawarkan kelebihan utama dalam menikmati cerita lucu, yaitu bisa membaca, menonton, atau mendengarkan kapan saja tanpa diatur oleh waktu. Pilihan cerita yang ditawarkan juga beragam dan Anda bisa memilihnya sesuai selera dengan cara mengikuti akun tertentu.

Sekali Anda mengikuti beberapa akun, algoritma media sosial akan merekam pilihan tersebut. Lalu, muncul rekomendasi akun serupa atau mendapat tautan ke informasi maupun cerita serupa.Jadi, Anda memperoleh banyak referensi akun cerita lucu kan?

Demikian pembahasan mengenai jenis-jenis cerita lucu dan media cerita lucu. Semoga informasi ini bisa menjadi referensi Anda yang membutuhkan hiburan di sela kesibukan sehari-hari.