Buku Humor dan Cerita Lucu Terbaik Indonesia

Humor atau komedi memiliki sejarah yang sangat panjang di dunia. Bisa dibilang perkembangannya sudah dimulai sejak pertama kali manusia mengenal bahasa. Dari abad ke abad, tidak hanya jenisnya yang semakin bertambah, media yang digunakan pun semakin beragam.

Di Indonesia, perkembangan humor juga tergolong pesat. Terutama dalam beberapa tahun terakhir. Ini bisa dilihat dengan semakin banyaknya acara komedi di televisi. Genre acaranya pun semakin beragam mulai dari komedi situasi hingga acara stand up comedy yang belakangan semakin populer.

Dari segi media penyampai, humor juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Humor dalam bentuk tulisan misalnya, berkembang dengan sangat pesat mulai dari era tahun 60-an hingga saat ini.

Konten-konten hiburan ini sempat hadir dalam bentuk majalah, namun karena berbagai sebab, banyak yang tidak bertahan lama. Para penulis komedi lantas mulai memanfaatkan kolom-kolom khusus di surat kabar, majalah hingga tabloid. Bentuknya pun beragam mulai dari esai, cerita pendek hingga cerita bergambar.

Menurut hasil penelitian Wuri Seodjatmiko, komedi tulis dibagi ke dalam 5 kelompok berdasarkan tekstualnya yakni:

  • One line jokes yakni humor yang ditulis hanya dalam satu baris saja. Konteksnya tidak harus satu baris atau satu kalimat saja, tapi bisa bersifat monolog
  • Two lines jokes yakni humor dua baris. Biasanya berupa dialog atau tanya jawab antara 2 orang
  • Short text jokes. Humor ini terdiri dari satu paragraf
  • Column humor atau humor kolom adalah sebuah tulisan jurnalistik tentang tema actual namun ditulis dengan sentuhan humor
  • Literary humor atau humor sastra ditulis dengan menggunakan sastra sebagai media penyampai dari lelucon yang ingin diceritakan.

Selain yang berbentuk teks, humor cetak juga muncul dalam format lain yakni komik, karikatur dan kartun. Dalam perkembangannya, humor komik pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 di Jerman. Sementara itu karikatur lebih banyak digunakan sebagai sarana kritik.

Hingga hari ini, tidak terhitung banyaknya buku humor yang beredar di dunia maupun tanah air. Isinya pun beragam mulai dari anekdot, kisah pribadi (personal literature) hingga kumpulan cerita lucu. Buku humor juga memiliki jenis yang beragam, tergantung apa yang diangkat menjadi lelucon. Ada humor olahraga, humor profesi, humor olahraga, humor otokritik atau kritik terhadap diri sendiri, hingga humor politik.

Perkembangan Majalah Humor di Tanah Air

Hadirnya komedi dalam bentuk tulisan sendiri sudah mulai marak di Indonesia pada mulai tahun 1970-an. Karena buku waktu itu belum bisa dijangkau oleh khalayak luas, banyak penulis komedi menuangkan ide-ide mereka melalui majalah. Tidak hanya menampilkan humor dalam bentuk teks, majalah-majalah ini juga memuat komik hingga aneka karikatur. Ada beberapa majalah komedi yang cukup terkenal di masa itu antara lain:

  • Majalah STOP

Majalah yang berkantor pusat di Jakarta ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1969. Dengan harga Rp200 per eksemplar, STOP menampilkan beragam konten yang berbau komedi mulai dari kartun, anekdot, hingga cerita-cerita lucu lain. Rubrik-rubriknya yang terkenal antara lain Stop di Sini, Lewatkan Saja, Percaya Deh hingga Our English Page. Karena beberapa alasan, majalah tersebut akhirnya berhenti terbit.

  • Majalah Astaga

Majalah Astaga menerbitkan edisi perdananya pada tahun 1973. Dengan tujuan meningkatkan mutu dan kreativitas para pembacanya, majalah yang dijual dengan harga ecer Rp150 ini memuat berbagai bentuk humor. Mulai dari teks, kartun, karikatur, puisi, cerita bergambar dan lain sebagainya. Salah satu penulis terkenal yang sempat masuk jajaran redaksi majalah Astaga adalah Arswendo Atmowiloto.

  • Majalah HumOr

Pada awal tahun 1990-an, masyarakat Indonesia khususnya Jakarta kembali menyambut majalah humor baru yang diberi nama seperti kontennya, ‘HumOr’. Kesukaan masyarakat Indonesia dengan konten komedi dibuktikan dengan laris manisnya majalah ini. Isinya pun bervariasi, mulai dari komedi satir hingga guyonan dengan bahasa non vulgar. Sayangnya, seperti kedua majalah lainnya, HumOr akhirnya juga berhenti terbit.

Buku Humor Terbaik Indonesia dari Masa ke Masa

Era Tahun 1945-1980-an

Mulai dari era kemerdekaan hingga tahun 1980-an, tidak banyak sumber tentang penulis komedi yang tercatat. Di masa itu, kebanyakan literatur berisi tentang situasi politik yang sedang bergejolak. Novel-novel pun lebih banyak menceritakan kisah romansa dengan bumbu-bumbu kondisi negara saat itu.

Humor di masa itu lebih didominasi oleh kehadiran teater dan kesenian rakyat. Beberapa kelompok lawak pun bermunculan seperti Srimulat, Warkop DKI, Jayakarta Grup, Bagito, Kwartet Jaya dan lain sebagainya. Humor dalam bentuk cetak baru mulai populer dengan terbitnya majalah-majalah seperti STOP dan Astaga.

Era Tahun 1990-an

Di masa ini, penulis-penulis yang mengkhususkan diri untuk menulis cerita komedi mulai bermunculan dan eksis. Beberapa judul buku humor populer yang dihasilkan pada era ini antara lain:

  1. Petruk Gareng (terbit sejak tahun 1980-an, karya Tatang S)

Secara umum, kisah-kisah yang ditampilkan oleh Tatang S dalam serial komik Petruk Gareng sebenarnya adalah cerita horor. Namun beberapa dialog serta adegan yang muncul, kerap mengundang tawa. Salah satu ciri khas unik yang membuat karya-karya Tatang S selalu diingat adalah caranya menyapa para pembaca di awal setiap komiknya yakni dengan menyelipkan kalimat, “Salam manis tidak akan habis, salam sayang tidak akan hilang, buat semua pecinta karya saya.”

Tentang Penulis

Tatang S.

Komikus bernama asli Tatang Suhenra ini sebenarnya sudah mulai eksis menulis komik sejak tahun 1970-an. Sukses dengan kisah-kisah silat yang membuatnya jadi komikus dengan bayaran tertinggi di Bandung, di tahun yang sama dia membuat sebuah komik epigon dari kisah Si Buta dari Gua Hantu dengan judul Si Gagu dari Gua Hantu.

Komik Petruk dan Gareng yang melambungkan namanya bahkan sudah ditulisnya sejak tahun 1980-an. Namun popularitasnya menanjak pesat di tahun 1990-an. Cerita horor dengan tokoh pewayangan itu sangat digemari anak-anak muda di era tersebut karena menyisipkan humor-humor yang tak hanya lucu tapi juga bijak. Tatang S meninggal dunia pada tahun 2003 silam.

  1. Lupus (terbit tahun 1980-an sampai 1990-an, karya Hilman Hariwijaya dan Boim Lebon)

Cara Hilman Hariwijaya meramu cerita Lupus memang sukses menghinoptis banyak pembacanya. Tokoh Lupus diceritakan sebagai sosok pemuda yang tidak lepas dari permen karetnya. Gaya rambutnya yang berjambul seperti sarang burung dan sifatnya yang konyol membuat kisahnya selalu menarik untuk disimak.

Hilman menulis puluhan cerita Lupus mulai dari kisah kanak-kanak hingga remaja. Sebagian ditulisnya bersama dengan Boim Lebon. Beberapa judul serial Lupus yang populer antara lain Tangkaplah Daku, Kau Kujitak, Makhluk Manis dalam Bis dan Bangun Dong, Lupus!

Tentang Penulis

Hilman Hariwijaya

Nama Hilman Hariwijaya populer pertama kali saat ia menulis sebuah cerita pendek berjudul Lupus yang diterbitkan di majalah Hai pada tahun 1986. Kisah pelajar yang juga berprofesi sebagai wartawan itu kemudian dibukukan pada tahun yang sama. Cerita kehidupan remaja dengan bumbu komedi yang diselipkan membuat Lupus sangat populer. Seri ini telah dibuat ke dalam 5 film layar lebar dan sinetron dari 52 judul buku yang diterbitkan.

Boim Lebon

Kesuksesan serial Lupus juga berhasil melambungkan nama penulis lain yakni Boim Lebon. Selain tampil sebagai sahabat Lupus dalam cerita, duet Boim dengan Hilman semakin melambungkan kisah berbalut komedi tersebut.

Meski namanya besar bersama Lupus, namun Boim juga menelurkan karya komedi sendiri. Beberapa bukunya memiliki judul nyentrik dengan bahasa yang diplesetkan seperti Kejarlah Daku Kau Kuangkot dan Ayat Amat Cinta.

  1. Mukidi

Beberapa waktu yang lalu kisah tentang seorang pria asal Cilacap bernama Mukidi. Dialog kocak serta cara berpikir sang tokoh yang ajaib sukses mengocok perut banyak orang. Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya cerita tentang Mukidi ini sudah beredar sejak tahun 1990-an, meski belum dalam bentuk cetak. Adalah Soetantyo Muchlas, sosok penulis di balik cerita-cerita konyol Mukidi.

Bermula dari mengirimkan cerita-cerita itu ke radio sampai mengunggahnya ke media sosial, cerita tentang Mukidi akhirnya dibukukan pada tahun 2010 dengan judul Laskar Pelawak: Balada Mukidi dan Wakijan.

Tentang Penulis

Soetantyo Muchlas

Pria berusia 65 tahun yang akrab disapa Pak Yoyo itu awalnya menulis cerita Mukidi hanya untuk mengisi waktu luang di kantornya. Hobinya menulis lantas membawanya mengirimkan cerita-cerita penuh banyolan itu acara Ida Krishna Show di radio Prambors. Dari sanalah kemudian tokoh Mukidi mulai dikenal orang.

Hingga saat ini, kisah Mukidi jumlahnya sudah sangat banyak bahkan hingga ribuan. Pak Yoyo mengambil ide dari kejadian sehari-hari hingga mencari inspirasi dari situs-situs humor luar negeri yang berbahasa Inggris.

Era Tahun 2000-an

Salah satu faktor diterima atau tidaknya sebuah cerita humor adalah tergantung seberapa besar audiens merasa terhubung dengan ceritanya. Ini juga yang konon membuat banyak majalah-majalah humor sulit bertahan. Alasannya adalah karena sebagian konteks komedi yang ingin disampaikan tidak dipahami dan akhirnya tidak menimbulkan kesan lucu yang diharapkan.

Tulisan humor di tanah air kembali mengalami geliat baru pada tahun 2000-an. Berbeda dengan era sebelumnya, di masa ini cerita komedi laris manis karena kemampuan sang penulis menyampaikan sesuatu yang relatable. Berikut adalah beberapa buku humor yang populer di tahun 2000-an.

  1. Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (terbit tahun 2005, karya Raditya Dika)

Meski sudah menerbitkan banyak karya, namun buku pertama Raditya Dika ini dianggap yang paling berkesan. Menceritakan tentang pengalamannya selama berkuliah di Australia, buku ini berhasil memunculkan gaya baru dalam dunia literasi Indonesia. Waktu itu, belum banyak penulis komedi, apalagi yang menggunakan gaya bertutur ala diari seperti yang dilakukan oleh Raditya Dika. Tidak butuh waktu lama sampai buku tersebut masuk jajaran best seller sampai kemudian difilmkan pada tahun 2009.

Tentang Penulis

Raditya Dika

Penulis sekaligus stand-up comedian yang kini juga merangkap sebagai Youtuber ini bisa dibilang berhasil membuat formula baru dalam penulisan cerita humor. Alih-alih cerita fiktif, apa yang dikisahkan oleh Raditya Dika dalam buku-bukunya justru berasal dari kejadian yang dialaminya sehari-hari.

Selain Kambing Jantan yang menjadi karya pertamanya, Raditya Dika juga menulis buku-buku lain dengan genre sama antara lain Marmut Merah Jambu, Manusia Setengah Salmon dan Cinta Brontosaurus. Cara penyampaiannya yang unik dan lucu serta bagaimana pembaca mampu merasa terhubung adalah kunci yang membuat karyanya ini diterima luas di kalangan anak muda.

  1. My Stupid Boss (terbit tahun 2009, karya Chaos@work)

My Stupid Boss berkisah tentang perjuangan seorang karyawan dalam menghadapi tingkah sang bos yang tidak masuk akal. Ada 70 kisah tentang bagaimana kocaknya sang bos yang tidak berhenti menyiksa anak buahnya dalam buku ini.

My Stupid Boss sukses menarik perhatian para pembaca kumpulan cerita lucu di Indonesia. Terbukti beberapa tahun setelah penerbitannya, buku ini kemudian diangkat ke layar lebar dengan bintang Bunga Citra Lestari dan Reza Rahadian.

Tentang Penulis

Chaos@work

Sejak awal menerbitkan cerita tentang Bossman dalam serial My Stupid Boss yang ditulisnya, Chaos@work tidak pernah membongkar identitas asli tentang siapa dirinya. Selain lewat buku humor, dia kerap membagikan tulisannya lewat blog pribadinya di blog.chaosatwork.com.

  1. Poconggg Juga Pocong (terbit tahun 2011, karya Arief Muhammad)

Novel unik bergenre komedi romantis ini pada awalnya bermula dari cuitan di Twitter oleh sebuah akun anonim dengan username @poconggg. Celutukan-celutukannya yang kerap mengundang tawa kemudian hadir dalam bentuk buku yang diberi judul Poconggg Juga Pocong.

Tidak hanya unsur komedi yang diselipkan dalam dialog dan penceritaannya, setting dalam novel ini juga terbilang unik. Bercerita tentang hantu pocong pendatang baru yang masih belajar menjadi pocong yang benar. Gaya bercerita penuh komedi yang dituturkan oleh Arief Muhammad membuat hantu-hantu yang diceritakan tidak lagi terasa seram.

Buku yang sempat masuk jajaran best seller ini juga sempat diangkat ke layar lebar dengan bintang Ajun Prawira dan Nycta Gina.

Tentang Penulis

Arief Muhammad

Memulai karir menulisnya dari media sosial Twitter, Arief Muhammad juga sukses dengan buku komedinya. Sempat masuk jajaran best seller, Arief kerap membagikan cerita tentang kehidupan tokoh pocong yang ditulisnya dalam blog poconggg.com. Mulai aktif sejak bulan Oktober 2010, blog tersebut sudah dikunjungi lebih dari 7 juta viewers. Sayangnya sampai sekarang Arief belum menulis karya baru lagi dan lebih fokus pada karir barunya sebagai Youtubers.

  1. Skripshit: Kisah Sesat Mahasiswa Abadi (terbit tahun 2012, karya Alitt Susanto)

Buku dengan konsep personal literature ini menceritakan pengalaman Alitt Susanto, sang penulis di masa-masa kuliahnya. Kesulitannya menyelesaikan skripsi hingga julukan Mapala (Mahasiswa Paling Lama) yang dilekatkan padanya membuat banyak mahasiswa tingkat akhir merasa memiliki kesamaan dengannya. Dibalut humor yang mengocok perut, pembaca merasa miris sekaligus terhibur saat membacanya.

Tentang Penulis

Alitt Susanto

Lahir di Sragen, Alitt awalnya merupakan mahasiswa biasa di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Pengalamannya bergelut dengan skripsi membuatnya memutuskan menulis sebuah buku bergenre komedi dalam format personal literature berjudul Skripshit yang sukses di pasaran. Selain Skripshit: Kisah Sesat Mahasiswa Abadi Alitt kembali menulis ShitLicious dan Relationshit yang juga bergenre komedi.

  1. NGENEST: Ngetawain Hidup Ala Ernest (terbit tahun 2013, karya Ernest Prakasa)

Dalam buku pertamanya ini, Ernest menggunakan kaya penulisan yang mirip dengan Raditya Dika dengan menceritakan pengalaman sehari-harinya. Beragam masalah hidup yang dialami sang penulis mulai dari dianggap Cina yang tidak tulen hingga cerita-cerita lain yang terkesan ‘menertawakan diri sendiri’ (humor otokritik).

Tentang Penulis

Ernest Prakasa

Saat ini nama Ernest Prakasa mungkin lebih dikenal sebagai sutradara dan stand up comedian. Namun kiprahnya di dunia penulisan komedi juga layak mendapat apresiasi besar. Selain trilogi Ngenest, beberapa buku komedi yang pernah ditulisnya antara lain Dari Merem ke Melek: Catatan Seorang Komedian hingga Setengah Jalan.

Dilihat dari segi cara bercerita hingga format penulisan, buku-buku humor yang terbit di Indonesia memang semakin beragam. Salah satunya adalah jenis personal literature yang dituturkan dengan gaya kocak. Buku-buku semacam ini semakin banyak bermunculan dan biasanya ditulis oleh para stand up comedian. Itulah ulasan singkat mengenai humor tulisan, perkembangannya hingga cerita-cerita lucu terbaik dari Indonesia.